Langsung ke konten utama

SSM dan Para Sastrawan

Idris Pasaribu
Harian Analisa, 2 Des 2012

PRO KONTRA pada sebuah wacana dan perjuangan adalah biasa.Terlebih jika tak pernah ikut dalam sebuah pertemuian yang membicarakan sebuah wacana poerjuangan, kemudian memberikan banyak pendapat, sementara hal dasar tidak tau, sesuatu yang aneh juga. Wacana dasar dari awaql banyak yang tak harus dkiungkap ke publik, karena setiap strategi ada cara mainnya.
Demikian dengan Sastra Sumatera Merdeka, yang juga adalah sebujah perjuangan, punya banyak tantangan. Sumatera Utara memang sejak tahun 1920 sastranya mendapat tantangan. Masih ada saksi yang biosa dilihat,m seperti pertjetakan Tapanoeli di Jalan Mesjid Medan. Dulunya salah satu percetakan yang m elahirkan banyak arya sastra dari Sumut. Banyak majalah dari Pulau Jawa yang doeloe, apa sudah saatnya kita bersastra sementara kita masikah terus dijajah. Mereka tak sadar, kalau sastra juga -ketika itu- adalah alat perjoangan untuk kemerdekaan. Siapakah yang berteriak seperti tu? Tentu saja para kaoem Feodal yang pro pada pihak penjajah atau yang menjadi boneka penjajah.

Setelah berkembang dan kiblat sastra nusantara (Indonesia, Malaya, Thailand, Pihilipine, Kambodja dan Laos) ke arah Medan, mulailah para penulis berdatangan ke Medan. Katakanlah STA, Mochtar Loebis, Adi Negoro dan sebagainya. Gaya Medan bersastra sebagai alat perjoangan, berkembang di Pulau Jawa. Sampai pada tahun 1962, semua penulis dari Jawa menuding para pesastra Medan menulis Roman Picisan. Merekapun memaksa pemerintah agar termasuk sastra disentralisasi, termasuk pemasukan kertas dan tinta cetak, harus beli dari Jakarta, tak boleh lagi langsung membeli dari Singapura dan Malaya. Para pesastra kita pun ikut hijrah ke Jakarta. Hanya sedikit yang berupaya mempertahankan agar mereka tetap berada di Medan dan berupaya bertahan agar kiblat sastra nusantara tetap berada di Medan. Kekuasaan yang sentralistik mengalahkan Medan.

Demikian juga para pejuang-pejuan kita yang turun dari gunung mendapat ejekan oleh manusia-manusia yang mendua, terutama kaum feodal yang boneka Belanda. Ejekannya mengatakan; bagaimana mau merdeka dengan bambu runcing? Mau merdeka, bikin jarum jahit saja belum bisa. Mau merdeka, makanan saja pun daun ubi rebus dan seterusnya. Ejekan yang menyakitkan. Ketika para pejuang-pejuang kita turun gunung mereka berteriak MERDEKA atau MATI ! Apa yang terjadi? Mereka kaum feodal itu pun menjawab ATAU ! Artinya mereka tak mau merdeka, karena dalam penjajahan mereka bisa makan keju dan susu serta ikut menindas semangat juang para pejoang. Kalau merdeka saja tak mau, bagaimana mareka rela mati untuk perjuangan. Cakap pun banyak dengan berbagai teori. Pejuang tak membutuhkan teori, tapi membutuhkan niat, semangat juang dan berbuat.

Tersebut seorang penulis Kirana Kejora yang pada mulanya tak dianggap oleh orang-orang Jakarta, karena dia berada di Papua, kemudian hijrah ke Jatim di sebuah kota kecil. Dia menulis dan penerbit menderanya hanya dapat royalty 10%. Kirana Kejora memberontak. Dia menerbitkan indie dan memasukkan bukunya ke toko buko kecil di berbagai daerah di tingkat dua di Pulau Jawa. Bahkan kini novel terbarunya sudah menembus semua Indomaret di seluruh Pulau Jawa. Aneh dan semua mengejek, novel masuk Indomaret. Nyatanya, bukunya lebih laku di Indomaret ketimbang di toko buku. Mata para penulispun terbelalak. Kini semua penulis memasukkan bukunya ke Indomaret. Untung pihak Indomaret tak mau melupakan jasa Kirana Kejora. Semua buku yang mau masuk ke Indomaret, harus melalui Kirana Kejora, kata Indomaret. Kini dua novel Kirana Kejora sudah di filmkan ke film layar lebar. Buku yang banyak terjual di Indomaret itu, tak perlu label Best Seller seperti novel lainnya. Kini bukunya Kirana Kejora sudah terjual ratusan ribu buku dalam satu judul.

Kita tahu, semua mengejek, melecehkan perjuangan Kirana Kejora, ketika dia merambas buku-bukunya bisa masuk Indomaret dan dia memang ahli meyakinkan dirut Indomaret, hingga bukunya bisa di pajang ditoko swalayan itu. Kini orang yang mengejek dengan gaya feodalisme dengan sejuta teori itu, malah memohon agar buku-bukunya bisa terpajang juga di Indomaret. Bahkan penulis yang sudah dianggap beken di Indonesia juga mohon pada Kirana Kejora, yang dulunya hanya tersenyum sinis melihat buku Korana Kejora terpampang di swalayan itu.

Di Jawa sekarang sudah banyak anak-anak muda antara 20-30 tahun mendirikan kios-kios buku yang menjual buku-buku sastra di berbagai tingkat dua bahkan kecamatan. Semangat juang mereka untuk melawan toko buku besar, yang seenak perutnya menentukan harga buku milik orang lain.

Dalam sebuah perjuangan, penulis ingat sebuah ajakan kepada teman-teman untuk bermain. Salah seorang yang dituakan akan berteriak memanggil temannya untuk bermain petak umpat lalu dengan Bahasa Batak dia mengatakan: “Ise na olo ro ma tu son, ise na so olo, lao ma sian on.” Artinya:” Siapa yang mau ikut silahkan datang dan ikut bersama kami. Yang tak mau ikut, silahkan pergi dari tempat kami bermain!” Kalau masih kecil saja kita bisa tegas, walau hanya bermain, kenapa sekarang kita tidak bisa tegas?

Dijumput dari: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/12/02/91302/ssm_dan_para_sastrawan/#.UNDRBax2Na8

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com