Jumat, 20 Oktober 2017

Sastra Sumatera Utara dalam Dialog

Sartika Sari *
Harian Analisa, 6 Agustus 2017

HILIR mudik perbincangan tentang kesusastraan Sumatera Utara, senantiasa diwarnai  kena­ngan kejayaan tahun 1920-an. Kemudian  tahun 1945 melalui se­pak terjang Chairil Anwar. Se­telah itu, apa yang hendak dike­nang-kenang lagi?

Setidaknya hal tersebut pula yang menjadi bagian penting da­lam dialog sastra di Balai Bahasa Sumatera Utara. Tema yang di­usung adalah “Peran Sastrawan Sumatera Utara dalam Perkem­bangan Sastra Indonesia”.

Pembicaraan mengenai sas­trawan dan kesusastraan Indone­sia berkembang dalam beberapa arah. Kendati demikian, bak nyiur dihempas angin pantai, di­alog itu sepintas menghanyut­kan. Keakraban dan canda tawa da­lam tiap obrolan antarsastra­wan yang diundang hanya me­nyi­ratkan kehangatan dan kete­nangan. Nyatanya, semakin dire­sapi, “terik” juga tidak bisa di­ang­gap remeh. Terik itu berpo­tensi menjadi api dalam sekam.

Pasalnya, pasca Chairil, tidak banyak nama besar sastrawan Su­matera Utara yang dinilai ber­pengaruh dalam kesusastraan In­donesia. Salah satu nama yang ke­rap tercantum dalam berbagai pembahasan oleh kritikus atau pe­ngamat sastra adalah Bokor Hu­tasuhut. Dengan kondisi yang demikian, apakah sastrawan Su­matera Utara masih dianggap ber­pengaruh dalam kesusastraan Indonesia?

Pertanyaan tersebut divokali­sa­si menjadi pertanyaan publik (untuk menyebut sastrawan se­cara keseluruhan) atau pertanya­an individual. Pertanyaan lanju­tan yang berkorelasi erat; apa yang sudah dilakukan oleh sas­trawan untuk kemajuan sastra di Sumatera Utara? Agar kehadir­annya diakui kembali oleh pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya? Bagaimana peran sastrawan Su­matera Utara dalam perkemba­ngan sastra Indonesia?

Pada pertanyaan pertama, In­donesia yang dimaksud adalah pem­bagian wilayah yang seolah-olah berada di luar Sumatera. In­do­nesia yang dituju adalah wi­layah keseluruhan yang dalam se­bagian besar diskusi sastra se­ringkali ditunggangi oleh pulau Jawa.

Pada perspektif ini, Dr. Ros­liani, S.S., M.Hum., memapar­kan kiprah sastrawan yang ber­asal dari Sumatera Utara dalam ke­susastraan Indonesia. Sejum­lah nama yang disebut misalnya Merari Siregar dan Bokor Huta­suhut. Sumbangsih yang diberi­kan oleh kedua sastrawan Suma­tera Utara tersebut ditinjau dari bagaimana keterlibatan kedua­nya dalam perkembangan sastra Indonesia. Terutama yang dibuk­tikan dengan pengakuan dari ahli sastra yang berasal dari pulau la­in.

Pada pertanyaan kedua, Indo­nesia yang dituju adalah identitas kesusastraan. Yakni yang meng­gu­nakan bahasa Indonesia atau me­miliki pertalian dengan kein­donesiaan. Sastra Indonesia se­bagai sebuah entitas melalui tiap genrenya, menurut Dr. Rosliani, S.S., M.Hum., sudah dikatakan ber­kontribusi jika bermuatan po­sitif bagi pembacanya. Karya sas­tra adalah representasi dari ke­hidupan sosial pada suatu ma­syarakat. Dengan demikian, sas­tra yang mengusung nilai-nilai sosial tentu dapat berpengaruh pada keberlangsungan sistem norma dalam masyarakat.

Atas pemikiran tersebut, sastrawan berperan dengan cara masing-masing untuk memper­ta­hankan kesusastraan Indonesia melalui karya-karyanya. Teruta­ma dalam memupuk pembentu­kan budi pekerti melalui tulisan-tulisan yang merepresentasikan nilai dan norma sosial masyara­kat Sumatera Utara.

Paparan tersebut mengun­dang beberapa tanggapan yang men­jurus pada persoalan eksis­tensi sastrawan Sumatera Utara masa kini. Setidaknya ada tiga hal penting yang membutuhkan perhatian bersama.

Pertama, pernyataan dari  Yo­no mengenai situasi sastrawan mu­da dan sastrawan senior yang kini cenderung memiliki ruang ge­rak berbeda. Sastrawan muda dianggap lebih dominan berkip­rah di laman, sehingga mengura­ngi intensitas kiprah di zaman. Meski pada kedua ranah tersebut, kontekstualisasi masa dan per­kem­bangan iptek tetap memiliki “zaman” masing-masing. Argu­mentasi yang dipaparkan Yono di­latarbelakangi oleh fenomena munculnya jarak yang terlampau jauh dari sastrawan muda dan sas­trawan senior. Jarak yang di­maksud dilihat dari kualitas  komunikasi yang semakin menu­run dan minimnya kegiatan ko­laborasi yang berhasil dibentuk.

Dari sisi lain, YS Rat me­nyam­paikan kritik atas mele­mah­nya kiprah kritikus sastra dari Sumatera Utara. Kondisi ini terlihat dari minimnya jumlah pe­­nulis kritik sastra yang menulis kritik atas karya sastra sastrawan Sumatera Utara di media. Alha­sil, perhatian terhadap karya sas­tra dari Sumatera Utara juga sa­ngat kecil. Dengan situasi terse­but, siapa yang akan mengenal sastrawan Sumatera Utara?

M. Raudah Jambak, dari sisi berbeda, menyampaikan bagai­ma­na sumbangsih sastrawan Su­matera Utara ditinjau dari bidang pendidikan. Pada bidang ini, sastra tidak hanya dijadikan sub­jek mata pelajaran tetapi juga di­libatkan dalam kehidupan se­hari-hari. Terutama dengan me­ningkatkan daya baca para siswa terhadap karya sastra. Berbekal pemahaman yang baik itu, mem­baca karya sastra yang bernuansa kearifan lokal dapat memperta­jam kepekaan siswa terhadap ling­kungan sekitar.

Pembicaraan dilanjut­kan dengan paparan dari Syahril, S.S., mengenai upaya pengem­ba­ngan sastra Indonesia melalui penelitian interdisiplin. Pada ra­nah ini, gagasan-gagasan untuk melakukan penelitian tentang lokalitas dalam sastra Indonesia dengan keilmuan lain yang rele­van adalah inovasi. Hal tersebut agar sastra Indonesia tidak se­perti berada di ujung tanduk.

Di samping itu, upaya ini se­ka­ligus menjadi bentuk respon atas perkembangan zaman. Ter­utama yang menuntut pengem­ba­ngan keilmuan secara inter- dan intra. Secara tidak langsung, strategi ini juga bertujuan untuk meminimalisir anggapan publik bahwa sastra hanyalah milik ka­langan terbatas.

Dialog Sastra yang diagen­dakan berlangsung sejak pukul 09.00 WIB itu dihadiri oleh se­jumlah sastrawan Sumatera Utara. Yaitu Mihar Harahap, YS Rat, Hidayat Banjar, M. Raudah Jambak, Idris Siregar dan Syaf­rizal Sahrun. Turut melibatkan perwakilan beberapa komunitas. Yaitu, Kespera, Fokus, Anak Medan Cinta Sastra, serta para pe­menang Lomba Menulis Ce­rita Anak BHSU 2017 dan bebe­rapa penulis Sumatera Utara lain­nya.

Dengan pengalaman masing-masing yang berbeda itulah, per­bincangan tentang “pengaruh” sas­trawan menjadi sangat pelik. Terutama jika dikaitkan dengan kenangan kejayaan sastra di Su­matera Utara. Kendati demikian, pada akhirnya karya adalah bukti nyata yang dapat menetralisir ke­gelisahan atas nasib sastra Suma­tera Utara.

Tunggu dulu, apakah Sastra­wan Sumatera Utara memang be­lum menjadi bagian dari Sas­trawan Indonesia? Lantas sia­pakah Sastrawan Indonesia itu? Mengapa banyak yang mengi­ngin­kan?

Agaknya apa yang ditegaskan Mihar Harahap dapat menjadi ar­gumentasi yang menyegarkan. Sastrawan Sumatera Utara ada­lah Sastrawan Indonesia yang ada di Sumatera Utara. Penyebu­t­an di kemudian hari harus di­ubah. Mungkin dengan demiki­an, Sumatera Utara akan kembali berjaya.

*) Penulis penyuka esai dan puisi, alumnus Ilmu Sastra Universitas Padjadjaran.
http://harian.analisadaily.com/rebana/news/sastra-sumatera-utara-dalam-dialog/391812/2017/08/06

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Hana N.S A. Kohar Ibrahim A. Qorib Hidayatullah A. Syauqi Sumbawi A.S. Laksana Aa Aonillah Aan Frimadona Roza Aba Mardjani Abd Rahman Mawazi Abd. Rahman Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wahab Abdullah Alawi Abonk El ka’bah Abu Amar Fauzi Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adhimas Prasetyo Adi Marsiela Adi Prasetyo Aditya Ardi N Ady Amar Afrion Afrizal Malna Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R Sarjono Agus R. Subagyo Agus S. Riyanto Agus Sri Danardana Agus Sulton Ahda Imran Ahlul Hukmi Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad S Rumi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alfian Zainal Ali Audah Ali Syamsudin Arsi Alunk Estohank Alwi Shahab Ami Herman Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Amir Machmud NS Anam Rahus Anang Zakaria Anett Tapai Anindita S Thayf Anis Ceha Anita Dhewy Anjrah Lelono Broto Anton Kurniawan Anwar Noeris Anwar Siswadi Aprinus Salam Ardus M Sawega Arida Fadrus Arie MP Tamba Aries Kurniawan Arif Firmansyah Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Aris Kurniawan Arman AZ Arther Panther Olii Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha Arya Winanda Asarpin Asep Sambodja Asrul Sani Asrul Sani (1927-2004) Awalludin GD Mualif Ayi Jufridar Ayu Purwaningsih Azalleaislin Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bagus Fallensky Balada Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brillianto Brunel University London BS Mardiatmadja Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Catatan Cerpen Chamim Kohari Chrisna Chanis Cara Cover Buku Cunong N. Suraja D. Zawawi Imron Dad Murniah Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Dana Gioia Danang Harry Wibowo Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darma Putra Darman Moenir Dedy Tri Riyadi Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hardiana Dian Hartati Diani Savitri Yahyono Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Djasepudin Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Dwicipta Edeng Syamsul Ma’arif Edi AH Iyubenu Edi Sarjani Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra Eduardus Karel Dewanto Edy A Effendi Efri Ritonga Efri Yoni Baikoen Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Endarmoko Eko Hendri Saiful Eko Triono Eko Tunas El Sahra Mahendra Elly Trisnawati Elnisya Mahendra Elzam Emha Ainun Nadjib Engkos Kosnadi Esai Esha Tegar Putra Etik Widya Evan Ys Evi Idawati Fadmin Prihatin Malau Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faiz Manshur Faradina Izdhihary Faruk H.T. Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fauzi Absal Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fitri Yani Frans Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gabriel Garcia Marquez Gandra Gupta Gde Agung Lontar Gerson Poyk Gilang A Aziz Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Gus TF Sakai H Witdarmono Haderi Idmukha Hadi Napster Hamdy Salad Hamid Jabbar Hardjono WS Hari B Kori’un Haris del Hakim Haris Firdaus Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hazwan Iskandar Jaya Hendra Makmur Hendri Nova Hendri R.H Hendriyo Widi Heri Latief Heri Maja Kelana Herman RN Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Firyansyah Herry Lamongan Hudan Hidayat Hudan Nur Husen Arifin I Nyoman Suaka I Wayan Artika IBM Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ida Ahdiah Ida Fitri IDG Windhu Sancaya Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Q. Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indiar Manggara Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahjadi Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Irwan J Kurniawan Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Norman Iskandar Saputra Ismatillah A. Nu’ad Ismi Wahid Iswadi Pratama Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.J. Ras J.S. Badudu Jafar Fakhrurozi Jamal D. Rahman Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jemie Simatupang JILFest 2008 JJ Rizal Joanito De Saojoao Joko Pinurbo Jual Buku Paket Hemat Jumari HS Junaedi Juniarso Ridwan Jusuf AN Kafiyatun Hasya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Key Khudori Husnan Kiki Dian Sunarwati Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Korrie Layun Rampan Kris Razianto Mada Krisman Purwoko Kritik Sastra Kurniawan Junaedhie Kuss Indarto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L.K. Ara L.N. Idayanie La Ode Balawa Laili Rahmawati Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Leon Agusta Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayanie Lukman Asya Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Raudah Jambak M. Ady M. Arman AZ M. Fadjroel Rachman M. Faizi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid Mahdi Idris Mahmud Jauhari Ali Makmur Dimila Mala M.S Maman S. Mahayana Manneke Budiman Maqhia Nisima Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Mariana Amiruddin Marjohan Martin Aleida Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Mathori A. Elwa Media: Crayon on Paper Medy Kurniawan Mega Vristian Melani Budianta Mikael Johani Mila Novita Misbahus Surur Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohammad Cahya Mohammad Eri Irawan Mohammad Ikhwanuddin Morina Octavia Muhajir Arrosyid Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhammadun A.S Multatuli Munawir Aziz Muntamah Cendani Murparsaulian Musa Ismail Mustafa Ismail N Mursidi Nanang Suryadi Naskah Teater Nelson Alwi Nezar Patria NH Dini Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Ni’matus Shaumi Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nisa Ayu Amalia Nisa Elvadiani Nita Zakiyah Nitis Sahpeni Noor H. Dee Noorca M Massardi Nova Christina Noval Jubbek Novelet Nur Hayati Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Nurul Anam Nurul Hidayati Obrolan Oyos Saroso HN Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste PDS H.B. Jassin Petak Pambelum Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Pringadi AS Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Puji Santosa Purnawan Basundoro Purnimasari Puspita Rose PUstaka puJAngga Putra Effendi Putri Kemala Putri Utami Putu Wijaya R. Fadjri R. Sugiarti R. Timur Budi Raja R. Toto Sugiharto R.N. Bayu Aji Rabindranath Tagore Raden Ngabehi Ranggawarsita Radhar Panca Dahana Ragdi F Daye Ragdi F. Daye Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Renosta Resensi Restoe Prawironegoro Restu Ashari Putra Revolusi RF. Dhonna Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Ridwan Rachid Rifqi Muhammad Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Risa Umami Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rofiqi Hasan Rofiuddin Romi Zarman Rukmi Wisnu Wardani Rusdy Nurdiansyah S Yoga S. Jai S. Satya Dharma Sabrank Suparno Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman Yoga S Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sariful Lazi Saripuddin Lubis Sartika Dian Nuraini Sartika Sari Sasti Gotama Sastra Indonesia Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Fahmi Alathas Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sides Sudyarto DS Sidik Nugroho Sidik Nugroho Wrekso Wikromo Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Widodo Sobirin Zaini Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sreismitha Wungkul Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sugeng Satya Dharma Sugiyanto Suheri Sujatmiko Sulaiman Tripa Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Suwardi Endraswara Syaifuddin Gani Syaiful Irba Tanpaka Syarif Hidayatullah Syarifuddin Arifin Syifa Aulia T.A. Sakti Tajudin Noor Ganie Tammalele Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Tenni Purwanti Tharie Rietha Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tito Sianipar Tjahjono Widarmanto Toko Buku PUstaka puJAngga Tosa Poetra Tri Wahono Trisna Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Uniawati Unieq Awien Universitas Indonesia UU Hamidy Viddy AD Daery Wahyu Prasetya Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Weni Suryandari Widodo Wijaya Hardiati Wikipedia Wildan Nugraha Willem B Berybe Winarta Adisubrata Wisran Hadi Wowok Hesti Prabowo WS Rendra X.J. Kennedy Y. Thendra BP Yanti Riswara Yanto Le Honzo Yanusa Nugroho Yashinta Difa Yesi Devisa Yesi Devisa Putri Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhis M. Burhanudin Yurnaldi Yusri Fajar Yusrizal KW Yusuf Assidiq Zahrotun Nafila Zakki Amali Zawawi Se Zuriati