Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2009

Menggagas Perihal Monolog

Yanto Le Honzo
http://www.sinarharapan.co.id/

Di mana dan bagaimana posisi monolog pada proses kreatif teater selama ini masih bukan menjadi hal utama dalam teater yang sudah telanjur memosisikan dirinya sebagai kerja kolektif yang selalu sibuk dengan gagasan dan ide artistik yang kadang sangat kompleks. Sebagai bentuk pertunjukan, monolog lebih kecil intensitas kehadirannya dibanding pementasan grouping pada pertunjukan teater. Monolog lebih disikapi pada sekadar proses kematangan dan jam terbang seorang aktor.

Awalnya, monolog hanya istilah untuk menyebut bagian dari suatu pertunjukan, yang berupa sebuah dialog panjang tokoh pada tokoh lainnya atau untuk menyuarakan isi hati tokoh, semacam solilokui, yang berfungsi untuk memunculkan efek dramatis pada adegan. Itu dapat kita telusuri pada naskah-naskah Shakespeare atau Goethe. Bahkan pada masa jauh sebelumnya, seperti pada naskah-naskah Yunani.

Kemudian pada perkembangan selanjutnya, monolog diposisikan tersendiri kehadirannya oleh para …

Dari Diskusi dan Pentas Sastra Indonesia-Malaysia Shafirasalja DKR

Kontra Mitos dalam Minda Melayu

Purnimasari
http://www.riaupos.com/

Dalam beberapa cerita jenaka Melayu masa silam, orang banyak dikejutkan dengan mitos yang ditabrakkan. Tapi justru mitos kontra mitos inilah yang kemudian menjadi keunikannya. Namun medan magnet spiritual tetaplah ‘petir’ yang menjadi kekuatan sastra Melayu.

Peserta dialog dan pentas sastra Indonesia-Malaysia yang membahas peran kesenian, terutama sastra dalam membangun peradaban Melayu dari masa ke masa, yang ditaja Dewan Kesenian Riau banyak didominasi para seniman dan cikgu. Ini terbukti dengan hadirnya ratusan orang guru yang mengikuti dialog yang dibahas oleh UU Hamidy, Shamsudin Othman, SM Zakir dan Ahmad Razali di aula Dewan Kesenian Riau, Sabtu (21/2).

Bahasa, Tamadun Bangsa

Menurut Shamsudin Othman, penyair, pelukis muda Malaysia, runtuhnya tamadun suatu bangsa bukan karena peperangan maupun penjajahan tapi lebih oleh ketidakyakinan penganut tamadun atau peradaban itu pada jati diri maupun kesucian bahasanya. Dalam…

Membaca Pipa Air Mata

Romi Zarman
http://www.riaupos.com/

Hampir setiap koran di negri ini memiliki halaman sastra. Masing-masingnya tentu memiliki cara yang berbeda dalam mengapresiasi penulisnya. Ada yang mengapresiasi dengan cara memberikan honor yang layak bagi penulisnya. Ada yang mengapresiasi penulisnya dengan cara mengumpulkan sejumlah karya dalam satu buku. Kompas, misalnya, mereka menyeleksi cerpen-cerpen yang dimuat selama setahun dan mengumpulkannya dalam bentuk buku. Begitu pun puisi dan esai yang dimuat di rubrik “Bentara”.

Belakangan Riau Pos juga mengapresiasi penulisnya dengan membukukan sejumlah karya. Adapun tahun 2008, Riau Pos mengumpulkan sejumlah cerpen yang pernah dimuat selama setahun dengan judul buku Pipa Air Mata. Dalam buku tersebut, terhimpun lima belas cerpen yang ditulis oleh berbagai pengarang. Selain dari Riau, buku tersebut juga menghimpun tiga cerpen dari pengarang Sumatra Barat dan daerah lain. Tentu hal itu mengindikasikan bahwa Riau Pos sangat diminati oleh pengarang-pen…

CERPEN DENGAN AROMA EKSOTISME

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Perjalanan cerpen Indonesia mutakhir, terutama selepas pemberlakuan otonomi daerah, tampak makin menunjukkan peta kultur keindonesiaan yang lebih beragam. Keberagaman itu seperti mencelat begitu saja ketika persoalan etnisitas diangkat dan menjadi tema cerita. Kehidupan perkotaan dengan kecenderungan tokoh-tokohnya yang teralienasi atau tak punya identitas kultural yang kerap ditawarkan para penulis yang lahir dan besar di tengah masyarakat perkotaan—metropolis, tidak lagi mendominasi tema cerpen yang bertebaran di berbagai majalah dan suratkabar Minggu.

Para epigon yang tersihir oleh narasi yang puitik, penuh aroma bunga dengan latar cerita yang bermain di sebuah tempat yang begitu abstrak yang berada entah di mana nun jauh di sana, terus saja menjalankan mesin produksinya. Mereka memang produktif, tetapi sekadar menghasilkan tumpukan karya yang penuh busa dan gelembung kata-kata. Substansi cerita diselimuti oleh balon raksasa yang bernama …

Benteng Kebencian

Trisna
http://oase.kompas.com/

Siang itu matahari terasa lebih terik dari biasanya. Panasnya seolah menusuk setiap pori-pori kulit tubuh dan menembus hingga bagian dalam kepala. Angin yang bertiup pun terasa kering, karena asap kendaraan yang selalu memenuhi udara dan memberi warna kehitaman pada langit Jakarta.

Meskipun begitu, suasana hiruk pikuk tetap terlihat di sebuah terminal bus. Jika bukan karena tuntutan hidup, supir-supir angkutan umum, para pedagang, dan berpuluh-puluh penumpang itu akan memilih untuk tinggal di rumah, menghindari panas menyengat itu, sambil berharap, seandainya mereka bisa bekerja di sebuah ruangan ber ac milik perusahaan-perusahaan besar. Sebuah ‘andai saja’ yang juga mereka sadari, mungkin tak akan pernah tertulis dalam buku kehidupan yang dibuat Tuhan untuk mereka.

Di sebuah masjid dekat terminal itu, kumpulan artis jalanan cilik sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar gratis binaan sekelompok mahasiswa. Jauh di sudut ruangan itu, seorang gadis dengan gi…

Taman Labirin di Kaki Bukit

Rama Dira J
http://oase.kompas.com/

AKU mendengar sesuatu. Denting shamisenkah itu? Hmm, begitu cantik. Siapa yang memainkan? Pasti dia juga cantik. Langkah kakiku makin bersemangat menuju ke arah kaki bukit. Denting shamisen di pagi buta itu telah menghipnotisku.

Dulu aku pernah mendengar denting shamisen yang cantik. Tapi bukan di tempat ini. Aku mendengarnya di Kyoto. Gadis cantik di sebelah apartemenku yang memainkannya. Namanya Kiyoko. Ah, Kiyoko. Aku sudah terlanjur menjadikannya bagian dari masa laluku. Kami pernah menjalin hubungan, meski tak berumur lama. Aku memutuskan hubungan kami ketika tiba saatnya aku harus meninggalkan Kyoto, setelah studiku selesai.

Kini, aku kembali mendengar denting yang serupa. Aku berani memastikan, yang memainkan shamisen ini pasti cantik, sebab Kiyoko cantik. Meski Kiyoko pernah mengatakan padaku bahwa tak ada hubungan antara denting shamisen dengan kecantikan pemetiknya, aku sudah terlanjur yakin, jika yang memetik shamisen adalah perempuan cantik …

Bidadari dari Desa

Aba Mardjani
http://oase.kompas.com/

BAGI Ratri, langit di Cibaresah selama sebulan ini selalu saja biru. Bagi gadis kecil itu, langit di Cibaresah adalah padang angkasa luas tempat karnaval awan-awan yang tak pernah jemu dinikmatinya setiap hari. Gumpalan kapas yang putihnya amat kemilau itu seakan tak pernah bosan memamerkan segala keindahannya yang mengagumkan. Langit Cibaresah seakan tak pernah memperlihatkan kepekatannya. Kalaupun langit itu menangis, air matanya selalu luruh di malam hari saat seluruh warga dibuai lelap.

Itu pun berupa tempias halus atau gerimis. Seingat Ratri, sejak bulan lalu, tak pernah ada hujan lebat di kampungnya. Langit seolah telah kehabisan airnya. Sama seperti Ratri yang tak mampu lagi mengalirkan air mata di kala ia menangis di malam yang sepi dalam dekapan dingin kampungnya.

Sebulan lalu kebahagiaan gadis berusia 7 tahun itu direnggut alam yang seolah murka. Bapak dan emak serta Giwo kakaknya pergi untuk selama-lamanya bersama luruhnya lereng bukit akiba…

Tetanggaku Cina

Weni Suryandari
http://oase.kompas.com/

“Ma........Mama, Bu Mita udah pulang!” celoteh yang biasa kudengar setiap kali aku baru pulang mengajar dan baru mau membuka pintu pagar. Rumah yang terletak di hadapan rumahku itu selalu ramai dengan celoteh anak-anak kecil, si kembar dan si bungsu. Ketiganya laki-laki semua.

Aku menengok dan tertawa melihat celoteh mulut-mulut kecil itu. Mereka berebutan naik ayunan bahkan celah-celah pagar untuk bisa mengintipku dari balik pagar yang ditutupi fiberglass
“Iya, kenapa sayang? Ibu masuk dulu, ya?” Aku menyahut sambil membuka pagar.
“Ibu capek ya? Habis ngajar ya?” ah, anak itu sebenarnya santun. Pasti kalimat itu ditirunya dari sang mama. Biasanya sang Mama berada di dalam sambil membaca majalah atau menonton televisi. Papanya masih berdagang di pasar Kecapi, wilayah Pondok Gede, sebuah toko emas miliknya sendiri.

Siang itu, terik matahari meruapkan hawa panas pada tekanan atmosfir yang begitu pengap, menggigit seluruh permukaan kulitku, membuat suhu …

Karet Gelang di Jempol Hamsad

Yanusa Nugroho
http://majalah.tempointeraktif.com/

BIBIR DALAM PISPOT, Penulis: Hamsad Rangkuti, Cetakan I, Penerbit Buku Kompas, 2003, xxiv + 174 halaman.

Keunggulan Hamsad Rangkuti, ia piawai mengangkat peristiwa sehari-hari menjadi tema cerpen yang kuat dan memikat.

SEBAGAI penulis cerpen, bolehlah namanya ditulis dengan huruf kapital—sebagai tanda salut kita kepadanya. Cerpennya telah dibaca ribuan, mungkin jutaan orang di seluruh Indonesia. Karyanya telah mengeram di sanubari banyak penulis cerpen lainnya, yang tak jarang menetas menjadi cerita baru.

Hamsad Rangkuti memang jempolan. Cerpennya nikmat dibaca karena yang diangkat adalah persoalan keseharian—tema yang diakuinya diilhami dari berita-berita di koran. Sebagaimana ciri khas cerpen sastra, selalu saja kisah yang disajikan Hamsad membuka horizon baru. Ada tema tentang kerinduan, keteduhan, kepolosan, kejujuran, dan berbagai percikan nafsu manusiawi yang tak bisa disingkirkan begitu saja. Cerpen Hamsad adalah sebuah cermin besar…

Realisme Hamsad Rangkuti

Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

Jakarta: Sastrawan Hamsad Rangkuti, 65 tahun, menghabiskan akhir Ramadan di Bangkok. Kerajaan Thailand mengundang dia ke sana untuk menerima penghargaan sastra SEA Write Award. Ini penghargaan sastra tahunan dari kerajaan Thailand yang diberikan kepada pengarang Asia Tenggara.

Putri Maha Vhakri Sirindhorn menyerahkan penghargaan kepada Hamsad dan delapan pegiat sastra lainnya dalam sebuah upacara di Bangkok, 30 September lalu. Hamsad mendapatkan penghargaan itu karena buku kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot.

Selain Hamsad, kali ini penghargaan diberikan kepada Mohammad Bin Pengiran Haji Abd Rahman (Brunei Darussalam), Sin Touch (Kamboja), Othong Kham-Insou (Laos), Hatta Azad Khan (Malaysia), Elmer Alindogan Ordonez (Filipina), Stella Kon (Singapura), Watchara Satjasarrasin (Thailand), dan Nguyen Ngoc Tu (Vietnam).

Hamsad menambah daftar pengarang Indonesia yang memperoleh penghargaan itu. Sejak 1978, sudah ada 30 orang yang menerima pengharga…

Kenangan tentang Senen di Atas Panggung

Mustafa Ismail
http://www.tempointeractive.com/

Jakarta: Mereka bicara tentang Senen. Cerpenis Hamsad Rangkuti menceritakan pengalamannya ketika dipeluk dari belakang oleh seorang wanita di Senen, ketika pertama kali datang ke Jakarta dan berkumpul dengan seniman Senen. Penyair Taufiq Ismail memaparkan banyak nama seniman yang berkiprah di Senen. "Sesekali H.B. Jassin juga ke sini, tapi ia tidak suka nongkrong, ngobrol ke sana-kemari," kata Taufiq.

Kenangan tentang Senen itu ditumpahkan di atas panggung Nongkrong Sastra dan Musik Merdeka di Gelanggang Remaja Senen, Jakarta Pusat, Jumat malam lalu. Sejumlah seniman tampil dalam acara itu, seperti Taufiq Ismail, Hamsad Rangkuti, Misbach Yusa Biran, Dedy Mizwar, Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Sihar Ramses Simatupang, dan Viddy A.D.

Hamsad membacakan petikan novelnya berjudul Ketika Lampu Berwarna Merah, yang mengambil latar Senen. Novel setebal 210 halaman ini pernah dimuat bersambung di sebuah koran pada 1981 dan diterbitk…

Antara Vrederburg dan Bahasa

Danang Harry Wibowo*
http://www.lampungpost.com/

BENTENG Vrederburg yang terletak di depan Gedung Agung, Yogyakarta, salah satu peninggalan Belanda yang sampai saat ini masih berdiri megah. Benteng tersebut mengingatkan kembali betapa puasnya Belanda berkuasa selama 350 tahun di negeri ini. Momentum sejarah yang dapat dijadikan bahan kontemplasi betapa malunya bangsa ini ditindas bangsa lain.

Apakah bangsa ini sudah benar-benar merdeka? Secara konstitusional memang bangsa ini sudah merdeka. Akan tetapi, semua ranah kehidupan di negeri ini, termasuk bahasa dan budaya yang notabene menjadi pembeda dengan bangsa lain, terus diobok-obok bangsa lain.

Tempe yang dilisensikan menjadi makanan khas oleh Jepang, reog ponorogo yang dialihnamakan menjadi tari barong serta lagu "Rasa Sayange" yang dijadikan ikon pariwisata oleh Malaysia sebagian contoh betapa lalainya bangsa ini.

Menggelikan bukan? Pencurinya tetangga sendiri. Lebih menggelikan lagi, masyarakat Indonesia yang sebelumnya abai …

Lokalitas Sastra Indonesia

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

Definisi sastra lokal mengandaikan satu kesusasteraan yang terkungkung dan dikungkung oleh satu lokalitas. Meski kita sudah terbiasa menerima kehadiran sastra lokal tanpa mempertimbangkan vitalnya aspek eksklusivitas sastra bersangkutan. Bahkan cenderung menerimanya sebagai sesuatu yang inklusif hingga terbuka pada pengaruh asing. Ambil contoh, eksistensi sastra Sunda. Itu pasti bukan sastra yang hanya hadir dalam medium bahasa Sunda dan diumumkan dalam media cetak berbahasa Sunda supaya dibaca oleh komunitas yang terbiasa berkomunikasi dalam dan dengan bahasa Sunda.

Ketika kita membaca sajak-sajak Godi Suwarna mutakhir, meski ia memakai bahasa Sunda secara teramat personal, tapi kita tetap bisa meraba dan meli-hat bayang-bayang pola ekspresi Afrizal Malna. Atau sajaknya Soni Farid Maulana, Kembang Kembangning Simpe, yang mengingatkan kita pada sajak rupa - tetapi bukan rajah atau isim yang khas Sunda. Maka kita tak bisa menyebut itu sebagai s…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com