Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

Upaya Membuat Kritik Sastra Indonesia

Judul buku : Darah-Daging Sastra Indonesia
Penulis : Damhuri Muhammad
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : 1, Maret 2010
Tebal : xii + 168 halaman
Peresensi : Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

JIKA kita sepakat bahwa esai, ulasan singkat, resensi buku sastra, yang tumbuh di koran-koran layak disebut sebagai kritik sastra, agaknya keresahan, keluhan, kecemasan sebagian kalangan pengamat dan praktisi sastra akan kelangkaan kritik sastra, menjadi tidak beralasan.

Hampir setiap minggu sejumlah koran dan majalah menyediakan ruang untuk esai, ulasan, resensi buku sastra, wawancara, serta reportase perihal kegiatan diskusi sastra. Dari tulisan-tulisan pendek tersebut kadang pula tersulut polemik yang saling bersahut-sahutan. Kadang sahut-sahutan yang terjadi tidak hanya muncul dari koran yang memuat tulisan yang memicu polemik, tapi juga dari koran-koran lain. Polemik yang terjadi dan tersebar luaskan oleh media itu meski acap tidak bersandar pada penelitian mendalam terhadap tema ata…

Merayakan yang Dimangkirkan

Judul : Menyemai Karakter Bangsa, Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan
Penulis : Yudi Latif
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : I, November 2009
Tebal : xxiv + 182 halaman
Peresensi : Damanhuri
http://www.lampungpost.com/

KEBANGKITAN setiap bangsa selalu bermula dari kerja wacana; beranjak dari aksara. Tonggak kebangkitan nasional di Indonesia pun sesungguhnya bermula dari kerja wacana yang berlangsung melalui kelompok studi, tulisan jurnalistik, juga karya sastra.

Maka, bukan sesuatu yang terlalu mengejutkan ketika tahun 1924 Bung Hatta terlibat aktif di Perhimpunan Indonesia, dia pula penggagas dan pengelola utama jurnal Indonesia Merdeka, sembari tak lupa menulis puisi-puisi patriotik. Saat Bung Karno mendirikan Algemene Studieclub, dia pula yang menggagas dan merawat keberlangsungan jurnal Indonesia Moeda, sambil tak alpa aktif sebagai editor majalah Syarikat Islam (SI): Bandera Islam (1924–1927). Pun Sjahrir yang banyak berkiprah dalam mengelola jurnal Daulat Rakyat saat aktif di…

Punakawan, Musuh, dan Moralitas Politik dalam “Perang”-nya Putu Wijaya

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Politik memiliki manifestasi nilai di dalam jalan cerita. Seperti yang akan kami bahas di dalam tulisan ini, adalah mengenai isu politik di dalam novel Perang (2002) karya Putu Wijaya (PW). Melalui tulisan ini, kami tidak bermaksud mengetengahkan penjabaran yang panjang lebar, akantetapi hanya gambaran sekilas mengenai manifestasi nilai politik di dalam bangunan karya sastra. Novel Perang memiliki nuansa politis yang terbangun di alur ceritanya. Hal ini bisa dilihat dari garis besar cerita yang menggambarkan mengenai perseteruan dua kerajaan besar Astina dan Amarta.

Menilik penggambaran cerita, maka dapat dikatakan wajar-wajar saja dan memang politik harus ada di dalamnya mengingat bahwa novel Perang sebagai cerita mengenai tata pemerintahan sebuah negara. Novel ini membangun cerita politik yang lugas dan cair, mengingat bahwa hakekat sastra bukan semata-mata penulisan sejarah yang murni dan dokumen sejarah belaka. Kehidupan realitas yang term…

Teror(isme) Negara dalam Novel Indonesia

Aprinus Salam
http://www.jawapos.co.id/

TERORISME kini menjadi salah satu ancaman besar bagi kehidupan masyarakat dan negara Indonesia. Beberapa peristiwa teror bom yang menikam jantung Indonesia sejak bom Bali menjadikan agenda Detasemen 88 Mabes Polri sebagai perhatian penting pemerintah, media, dan tentu saja masyarakat.

Teror yang dipahami Indonesia seiring dengan peristiwa tadi terfokus pada segala yang berkaitan dengan Islam dan kelompok-kelompok militan garis kerasnya. Teror itu disebut sebagai ideological terrorism, yakni terorisme yang mendasarkan aksinya pada prinsip-prinsip ideologi. Biasanya teror tersebut diikuti pula dengan keinginan untuk memisahkan diri (gerakan separatis), mengacaukan ketertiban masyarakat, atau membangun pemerintahan sendiri. Teror itu disebut nationalistic terrorism. Kedua jenis teror tersebut menjadi pusat perhatian dan menutupi kemungkinan teror-teror lain yang muncul dan menjalankan aksinya dengan ”tenang dan damai”.

Teror-teror lain yang terabaikan …

Menyimak Lokalitas di Riau

Judul buku : Nyanyian Kemarau
Penulis : Hary B. Kori’un
Penerbit : Kakilangit Kencana
Cetakan : November 2009
Halaman : x+248 hlm.
Peresensi : Arman AZ
http://www.lampungpost.com/

MENYIMAK sisik melik lokalitas suatu daerah di Indonesia lewat sudut pandang sastra (cerpen, puisi, novel) tetap jadi ihwal menarik untuk dinikmati. Apa yang mungkin lumrah kita temukan dalam tulisan atau informasi jurnalistik, menjadi berbeda ketika dibaca dalam teks sastra. Selain memasuki wilayah imajiner (fiksi), bisa jadi kita pun akan memergoki sejumlah rekonstruksi fakta yang mungkin sebelumnya tak diketahui pembaca di daerah lain.

Beberapa tahun belakangan, novel Indonesia dipenuhi tema-tema lokalitas, semisal Jawa, Papua, Flores, Batak, dan beberapa daerah lainnya. Akhir tahun silam, bertambah lagi novel bertema serupa. Kali ini dari Negeri Lancang Kuning, Riau. Adalah sastrawan Hary B. Kori’un yang menerbitkan novel anyarnya bertajuk Nyanyian Kemarau.

Novel ini dibuka dengan prolog berupa narasi Sari, wanit…

Manajemen Proses Kreatif

Iwan Gunadi
http://www.lampungpost.com/

Tak sedikit pekerja film, sinetron, dan musik tersohor di Indonesia mengakui pentingnya peran manajer untuk kemajuan karier di dunia seni masing-masing. Tak heran kalau kemudian mereka meminta teman dekat, salah seorang anggota keluarga, suami, atau istri menjadi manajer mereka.

ADA pula yang meminta atau menerima tawaran dari perusahaan yang menyediakan jasa manajemen artis. Kesadaran akan pentingnya peran tersebut memang memicu sejumlah pihak mendirikan perusahaan jasa pengelolaan artis. Ya, mereka menyebutnya manajer artis untuk pelakunya dan manajemen artis untuk aktivitasnya.

Kesadaran semacam itu mungkin tak hanya ada di kalangan para pekerja film, sinetron, dan musik tersohor di Indonesia, tapi juga para pelaku seni rupa, seni tari, seni teater, atau bahkan seni sastra. Tapi, untuk empat kelompok terakhir, kesadaran itu kemudian tak segera atau bahkan sama sekali tak menjadi kenyataan, apalagi kelaziman.

Perbedaan tingkat persentuhan masing-ma…

Mengkaji Gerakan Sastra ‘Horison’

Abdul Aziz Rasjid
http://www.lampungpost.com/

Taufiq Ismail pernah merasa bahwa dirinya bersama puluhan anak SMA lain seangkatannya di seluruh Tanah Air telah menjadi generasi nol buku yang rabun membaca dan pincang mengarang. Istilah nol buku menerangkan pada kala itu mereka tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan sekolah sehingga mereka menjadi rabun membaca. Sedangkan istilah pincang mengarang diakibatkan tidak adanya latihan mengarang dalam pelajaran di sekolah.

Keadaan generasi yang rabun membaca dan pincang mengarang itu lalu diindikasikan Taufiq Ismail sebagai sebab mendasar amburadulnya Indonesia hari ini karena dimungkinkan generasi nol buku inilah yang kini menjadi warga Indonesia terpelajar dan memegang posisi menentukan arah Indonesia di seluruh strata, baik di pemerintahan maupun swasta.

Didorong oleh keresahan pada adanya generasi nol buku itulah, lalu Taufik Ismail menggagas gerakan sastra bersama majalah Horison–di mana Taufik Ismail pernah menjadi redaktur senio…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com