Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

HANTU JIWA IMAN BUDHI SANTOSA

Imamuddin SA *
http://www.sastra-indonesia.com/

Iman Budi Santosa lahir di Magetan, 28 Maret 1948. pendidikan formalnya: S. Pb. M. A. 4 th Yogyakarta (1968) dan Akademi Farming (1983). Ia pernah bekerja pada perkebunan teh di Kendal (1971-1975) dam Disbun Prop. Dati I Jateng (1975-1987). Pada tahun 1969 bersama Umbu Landu Paringgi Cs mendirikan Persada Studi Klub (PSK) komunitas penyair muda di Malioboro. Ia menulis sastra dalam dwi bahasa, yaitu Indonesia dan Jawa. Karya-karyanya kerap mengisi antologi-antologi puisi maupun cerpen di antaranya: antologi puisi Tugi (1986), Tonggak 3 (1987), Zamrud Katulistiwa (1997), Embun Tajalli (2000) dan lain-lain. Cerpenya dalam antologi Lukisan Matahari (1993), Liong Tembang Prapatan (2000), dan lain-lain. Sejak tahun 2004 ia menjadi anggota Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta (DKKY) seksi bahasa dan sastra Jawa.

Setiap ujaran bahasa merupakan tanda dari objek yang ditandainya. Tanda-tanda tersebut pada dasarnya memiliki makna, baik hanya sebatas ikon…

KADO PENGHAMPIRAN SASTRA YANG “MEMBUMI”*

Suryanto Sastroatmodjo
http://pustakapujangga.com/?p=638

Lebih kurang 15 warsa silam, Pamusuk Erneste (dalam buku “pengadilan puisi” penerbit Gunung Agung Jakarta, 1986), menggambarkan bagaimana jauhnya bila jagad sastra (inklusif kepenyairan didominasi sejumlah nama, yang ingin bertahan sebagai idola, dan bukan sebagai creator), hingga publik sastra kecewa. Ia menyebut tentang Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad dan WS. Rendra di tahun-tahun 70-an (setelah menikmati kemasyhuran hampir 25 tahun lebih, sementara kader-kadernya makin meredup masa itu), sehingga timbul sekelompok penyair muda yang merasa harus bertindak untuk mengembalikan dunia sastra di sudut penglihatan netral dan imbang, selaras dengan rising demans (tuntutan semakin meningkat).

Pendekar sastra HB Jassin menyebut; kredo sastra ialah suatu keteladanan moral, suatu empati individual yang lembut, jangan dipolitisir oleh elemen-elemen imperatif. Saya mengistilahkan camera obscure puitika apabila ingin meletakkan kaca ma…

Dari Ambivalensi Hingga Berladang di Punggung Sastrawan

Indrian Koto
Riaupos 3okt2010

Tulisan Romi Zarman yang berjudul Tiga Catatan di Riau Pos Edisi Minggu 19 September 2010 terkesan terburu-buru memandang ragam soal dalam sastra. Lantaran banyaknya hal yang ingin dia gugat, perlu kiranya ada respon untuk membuka sebuah dialog. Harapan saya akan ada diskusi dan bahasan yang lebih spesifik untuk setiap persoalan.

Internet, Koran dan Sikap Sastrawan

Romi terlalu sederhana melihat posisi dan fungsi internet sebagai media publikasi karya. Bagi Romi bentuk hanyalah apa yang bisa diraba, yang terlihat (pakai mata dan kepala pula) tidak dianggap sesuatu yang berbentuk. Dalam dunia internet, karya lebih banyak dipublikasikan di blog dan situs pribadi.
Adapun facebook (FB) yang muncul belakangan adalah dunia yang lebih hiruk-pikuk, di mana personal yang terlibat dan karya yang diposting, diperlukan satu bahasan tersendiri.

Ketika Romi bicara soal bagaimana dua media, koran dan internet bermain dalam penyeleksian karya, mengingatkan kita kembali pada g…

Tiga Catatan

Romi Zarman
Riau Pos,19Sep2010

Tiga catatan yang akan saya kemukan terdiri satu entitas yang bernama sastra. Pertama; perihal sastra maya yang menimbulkan ambivalensi dalam diri sebagian kaum sastrawan. Di satu sisi, mereka menolak kehadiran koran, tapi di sisi lain mereka juga mengirim dan mempublikasikan karya di sana. Kedua; pesatnya perkembangan sastra maya telah melenyapkan batas antara lokal-nasional. Tak ada istilah lokal-nasional. Riau Pos, misalnya, tidak bisa dikategorikan sebagai koran lokal. Lenyapnya batas-batas teritorial di dunia maya, mudahnya akses ke website Riau Pos, telah membuka mata kita bahwa Riau Pos bisa diakses di mana saja dan kapan saja. Ketiga; terjadinya ambivalensi dalam membumikan sastra. Tarik-menarik antara koran dan dunia maya, penerbit kecil-penerbit besar, dan sistem kapitalisasi yang bermain. Mudah-mudahan tiga catatn ini bermanfaat.

Pertama

Sastra maya adalah sastra yang dipublikasikan di dunia maya. Ia tak memiliki bentuk seperti halnya sastra koran…

Cahaya Mahfuz di Panggung Sastra Dunia

Peresensi: Ali Audah*)
The Day the Leader was Killed
Penulis: Najib Mahfuz
Penerjemah: Malak Mashem
Penerbit: Anchor Books, New York, 2000
http://majalah.tempointeraktif.com/

“My pride wounded and my heart broken, I wander aimlessly about like a stray dog. The heat does away with the pleasures of walking. Café Riche is a refuge from the pain of loneliness. …This is a temple where offerings are made to the late hero, who has become a symbol of lost hope, hope for the poor and the alienated…” (Dari “Elwan Fawwaz Muhtashimi” dalam The Day the Leader was Killed)

Di sebuah subuh, ketika Muhtashimi bangun tidur, yang pertama dilakukan adalah berdoa. Setelah itu ia berwudu dan melaksanakan salat subuh. Ia bersyukur, dalam usia setua itu masih bermanfaat. “Aku sudah tua, tapi sehat. Alhamdulillah.” Tiga zaman pernah dirangkumnya berturut-turut. Selintas lalu, ia melompati beberapa kekuasaan politik: Masa Raja Fuad I sampai zaman revolusi.

Ketika Hanaa, menantunya, memberitahukan sarapan sudah disiapk…

SEOLAH-OLAH KRITIK SASTRA

Maman S. Mahayana
Pikiran Rakyat 3 Okt 2010

Esai “Kritik dan ’Hama Sastra’” yang dimuat “PR” (19/9), tak mubazir kiranya jika ditanggapi. Ia seolah-olah esai “kritik sastra” yang enak dibaca, mengalir lancar memainkan bahasa. Akan tetapi, di sana sini ramai sesat nalar dan salah data. Tulisan ini coba mengembalikan duduk perkaranya ke jalan yang benar.

Esai itu berangkat dari buku Damhuri Muhammad, Darah Daging Sastra Indonesia (2010) yang memuat berbagai aspek sastra Indonesia; sejarah sastra, praktik kritik sastra, dan beberapa pandangan Damhuri tentang kehidupan kesusastraan Indonesia. Meski pembaca berkuasa menanggapi memaknai teks apa pun sebagaimana disarankan resepsi sastra, esai itu nyata benar telah mereduksi wacana keseluruhan isi buku.

Dengan mencomot satu konsepsi analogis, “hama sastra” untuk menyebut kritik sastra yang tidak sehat, esai Damhuri yang lain ditenggelamkan entah ke mana. Wacana yang lebih substansial, seperti problem sejarah sastra yang tersesat, perbincangan ka…

KRITIK DAN “HAMA SASTRA”

Binhad Nurrohmat
Pikiran Rakyat 19 Sep 2010

DAMHURI Muhammad dalam bukunya Darah-Daging Sastra Indonesia (2010) menuding ada jenis “kritikus sastra serupa hama tikus perusak tanaman di ladang sastra.”

Hiperbola Damhuri itu merupakan gusar besar terhadap kritikus sastra yang gencar memburu kelemahan karya sastra dan malas melacak kekuatannya. Kritikus sastra serupa itu adalah seteru karya sastra lantaran nafsunya lebih bergelora untuk berkonfrontasi ketimbang berkomunikasi dengan karya sastra.

Gusar Damhuri itu bukan perkara anyar dalam dunia sastra Indonesia; dan fakta-fakta perkara itu masih merajalela - sekurangnya menurut Damhuri.

Kritik sastra memproduksi nilai atau tafsir karya sastra. Penilaian dan penafsiran niscaya bertopang perspektif tertentu dan berkonsekuensi menerima resepsi, tanggapan, ataupun reaksi. Kritik sastra memanggul risiko konflik lantaran isi kritik sastra lahir dari rahim perspektif tertentu yang tak mungkin mewakili semua perspektif.

Lalu, apakah kritik sastra itu?…

Geladak Sastra, Saat Menapaki Sebuah Rezim

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Masih lekat dalam ingatan kita tantang partai Golkar, partai yang awalnya hanya digerakkan beberapa gelintir orang saja dan dalam waktu seumur jagung telah mampu menjadi kekuatan yang menyeluruh sebagai suatu ‘gerakan’ dari semua lapisan masyarakat. Dan kekuatan itu telah nyata ditunjukkan dengan adanya indikator tampuk kekuasaan yang mewarnai corak hegemoni wacana sosial di zamannya. Dan bahkan tidak tanggung-tanggung, kekuatan itu mampu mendekami tiga perempat setengah abad sejak kemerdekaan Republik Indonesia sebagai suatu Negara. Meskipun pada ahirnya juga hancur di-revolt berdasarkan kebutuhan waktu.

Gambaran ringan mengenai kondisi keberadaan rezim Golkar tersebut dapat kita lirik dari puisi pendeknya Gus Mus{Bisri Mustofa} yang berjudul‘Negriku telah menguning’. Disebut puisi pendek karena judul puisi yang pernah dibaca Gus Mus sendiri saat datang di acara padhang mbulan di kediaman Emha Ainun Najib sekitar tahun 1997 lalu it…

Mengapresiasi Festival Pertunjukan Puisi PPIA

TEMU SATRA NUSANTARA
Viddy AD Daery
http://www.suarakarya-online.com/

Temu Sastra Nusantara MPU (Mitra Praja Utama), adalah salah satu bentuk forum sastra-budaya kerjasama antar provinsi anggota MPU, disamping kerjasama di bidang lain meski sampai sekarang baru beranggotakan 10 Provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Banten, Jawa Tengah, DI Jogjakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa atenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Para peserta yang bergembira dapat mengakrabkan diri dengan teman-teman dari daerah lain, mengharapkan provinsi lain segera bergabung,terutama provinsi-provinsi yang seniman-sastranya kurang terdengar, misalnya Bengkulu, Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, Papua dan sebagainya.

Dalam Temu Sastra MPU ke V (lima), yang diselenggarakan di Bandar Lampung 1-3 Oktober 2010, disamping forum diskusi yang seru membahas isu-isu mutakhir sastra Indonesia ditengah globalisme, yang amat menarik dicermati dan dikembangkan adalah forum Apresiasi Seni yang berupa parade pertunjukan pui…

PDS HB Jassin Menuju Era Digital

Yusuf Assidiq
http://www.infoanda.com/Republika

Mungkin tidak ada di negara lain yang seperti ini. Sebuah pusat dokumentasi yang khusus menyimpan dan memelihara karya para sastrawan maupun seniman kondang dari zaman sebelum kemerdekaan hingga sekarang secara cukup lengkap. Namun demikian, perhatian segenap pihak sangat diperlukan bagi perkembangan lembaga tersebut ke depan.

Tanpa terasa sudah 30 tahun lembaga ini berkiprah. Tentu banyak tantangan dan persoalan yang melingkupi perjalanannya selama ini termasuk harapannya di masa depan. Dan, hal itu terungkap dalam diskusi bertajuk Peran Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Bagi Bangsa dalam rangka memperingati 30 tahun berdirinya, Senin (31/7) lalu, di Jakarta.

Seperti diungkapkan oleh William P Tuchello, director Library Congres Jakarta, saat menjadi pembicara, PDS HB Jassin memiliki peran yang sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun penelitian kesejarahan. Dengan koleksinya yang terbilang lengkap, masyarakat umum maupun ka…

Geliat Seni Aceh Pasca-Tsunami

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Dilanda konflik disintegrasi selama puluhan tahun, dan diterjang tsunami pada 28 Desember 2004, seni-budaya Aceh tidak lantas punah. Pasca-tsunami, seni-budaya Serambi Mekah justru menggeliat bangkit. Begitu juga kehidupan sastranya. Ribuan karya kembali ditulis dan ratusan buku sastra terbit pasca-tsunami. Seni khas Aceh pun berkali-kali dipertunjukkan kembali dalam berbagai iven kesenian.

Belum lama ini, 10-13 Desember 2007, dengan tajuk Piasan Sastra Aceh, karya-karya sastra dan seni-budaya Aceh dipamerkan serta dipertunjukkan di kampus FIB UI Depok, dan dilanjutkan dengan Mini Festival Film Aceh di Studio Megaplex, Alun-alun Grand Indonesia, Jakarta, pada 14-16 Desember 2007.

”Kegiatan ini memperlihatkan sisi Aceh yang lain. Bukan lagi sosok beraroma konflik atau tsunami yang mengharu biru perasaan jutaan orang. Kami ingin menyajikan ‘hidangan’ dengan menu seni-budaya, yang selama ini hampir tak memiliki ruang yang lebar untuk me…

MASIH SEPUTAR PENJURIAN YANG MISTERIUS

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sebuah amplop cukup besar, saya terima, 7 Januari 2002. Isinya, satu plakat agak mewah dan selembar surat. Ternyata, pengirimnya Panitia Panyelenggara Khatulistwa Literary Award (KLA) Indonesia’s Best Fiction Award 2000–2001. Plakat dimaksudkan sebagai simbol pernyataan keberterimaan dan barangkali juga penghargaan dari Panitia Panyelenggara, sedangkan surat dapatlah dianggap sebagai utusan panitia itu yang hendak menyampaikan ucapan terima kasih kepada juri.

Selaku juri, perasaan hati saya mendadak menggelembung saat membaca surat itu. Pasalnya, saya sadar betul, bahwa peran saya dalam penjurian itu terlalu kecil, bahkan mungkin juga tak bermakna apa-apa. Apalagi jika mengingat hasilnya yang diperlakukan mirip angket atau polling. Meski begitu, tidak urung, saya senang juga, hitung-hitung panitia telah menghargai kewajiban saya membaca sekian buku dalam kurun waktu setahun (2000–2001) dan kemudian memberikan daftarnya dalam urutan 10 terba…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com