Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Mencari Latar NTT dalam Cerpen

Yohanes Sehandi
__Pos Kupang, Suara NTT

DALAM sebuah cerita pendek (juga dalam novel atau roman), latar atau setting merupakan salah satu unsur intrinsik, di samping unsur intrinsik yang lain, seperti tema atau inti cerita, tokoh atau perwatakan, plot atau alur cerita, dan gaya pengungkapan cerita. Unsur-unsur intrinsik ini merupakan ‘unsur dasar’ yang membangun/membentuk sebuah cerita pendek (cerpen) atau novel. Eksistensi sebuah cerpen atau novel ditentukan oleh hadirnya unsur-unsur intrinsik ini. Tanpa kehadiran unsur-unsur ini, sebuah cerita rekaan atau cerita fiksi (prosa atau imajinasi), susah untuk dimasukkan sebagai cerpen atau novel yang merupakan salah satu genre karya sastra.

Gugatan untuk MASTERA 2006 dan Anugerah Sastra Dewan Kesenian Riau 2000.*

Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!”
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Awalnya masih menaruh pikiran positif. Di kepala seakan tertera kata-kata, “pasti pidatonya mbeneh, bukan awut-awutan,” nyata tebakan itu meleset. Pun ingin husnudzon, mungkin tak tahu sumber aslinya. Namun apakah mungkin, sastrawan terkenal yang banyak mendapati penghargaan, cuntel keilmuan?

Sekularisme Religius sebagai Kritik

–Sekularisme sebagai Kritik–
Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Kawan, perdebatan tentang apa yang disebut sekular dan sekularisasi—ada yang menulis sekuler dan sekularisasi—memang belum memperlihatkan tanda-tanda melelahkan. Padahal kurang apa kerasnya polemik yang pernah terjadi antara kelompok Bung Karno-Bung Hatta dengan kelompok Natsir-Hamka–Siradjudin Abbas—A.Hasan tentang soal ini. Kedua polemik ini memiliki pengikut, dengan corak dan gayanya masing-masing.

PANGGUNG PENCERITAAN SUWUNG

Sebuah novel perjalanan hidup yang penuh intrik emosional dan mimpi
Beni Setia
http://sastra-indonesia.com/

KONSTRUKSI pementasan wayang kulit bertumpu pada kelir–layar–, di mana si penonton ada di sebelah luar dan menikmati serta mengapresiasi tampakan dari bayangan wayang yang dimainkan dalang dan diproyeksikan oleh terang blencong–lampu minyak. Bila dirinci, di zona batas: hadir wayang yang aktualistik dimainkan dalang, ada wayang yang siap untuk dimainkan kalau pembabakan dan kebutuhan cerita memaksanya tampil, dan sekaligus ada wayang-wayang yang hanya jadi pajangan dan tidak akan dimainkan–berjejer di kiri dan kanan arena cerita yang ditandai oleh batang pisang buat menegakkan wayang, di antara kelir dan blencong.

Maaf, Supir Itu Suami Saya!

Salamet Wahedi *
tabloid Memo edisi 156, 11 Juli 2010

“Mbak, Mbak sudah siuman? Syukurlah kalau Mbak sudah siuman”, lamat-lamat Reni mendengar suara setengah cemas di sampingnya. Perempuan muda seumurny, yang kira-kira dalam taksirannya, tiga tahun lebih tua dibanding dirinya. Ia juga melihat ruang tempatnya terdampar putih semua. Sekeliling, hanya warna putih yang menyapa retina-pupil matanya.

FRAGMEN BAWAH JEMBATAN

Bambang kempling
http://sastra-indonesia.com/

Adalah setangkai bunga rumput berkelopak ungu dalam genggam perempuan di tengah siang. Sudah tidak begitu segar dan hampir layu, seperti kisah bunga-bunga terlalu tua untuk jadi mahkota. Mengapa? Apakah hari ini telah kehilangan fantasinya juga bagi wajah yang tersembunyi dari langit terbuka di balik payung pelangi?

Jembatan kecil pada suatu jalan kecil itu sungguh telah menjadi tempat yang baik untuk membebaskan keinginan bersedih, bahkan sekali waktu bisa menggodanya untuk iseng bergembira sejenak: memilin-milin tangkai bunga rumput yang digenggamnya sejak tadi sambil bernyanyi-nyanyi lirih. Lalu memungut sempalan ranting pohon waru lantas dilemparkannya ke arah buih yang tersangkut di celah-celah batu…Plung!!, dan buih pun berlubang memanjang, berombak lembut, sebagian terberai mengikuti arus air, maka terciptalah lecut pimping dari perjalanan sunyi gericik air. Tapi masih ada satu pertanyaan yang tidak juga terjawab oleh dirinya: “Bena…

Bayang-Bayang Wajah

Ahmad Zaini *
http://sastra-indonesia.com/

Kabut pagi belum mengering. Padahal sinar matahari sudah mulai menghangatkan tubuh. Tapi toh begitu, bening air telaga sudah mulai menguap tersengat oleh hangat sinarnya. Kumparan waktu menyeretku berkeliling di tepian telaga. Riak-riak kecil menggiring ikan-ikan berkecipak di permukaannya. Sebatang pohon mangga menyapaku saat aku duduk di bawahnya. Daun kuningnya membelai wajahku yang muram memikirkan lembaran hari yang tiada menentu.

Pelukis Gelombang Laut

Dody Kristianto*
http://sastra-indonesia.com/

Perempuan itu terbangun dari tidurnya. Tubuhnya perlahan bangkit dari lautan yang selama ini menyelubunginya. Ia nampak elok nan gemulai. Benar-benar menunjukkan sebuah arsiran dan detil rinci air lautan yang membentuknya. Cahaya bulan terang memberi warna kuning langsat pada kulitnya yang semula bening. Ia nampak rupawan. Rambutnya tergerai panjang. Setiap lekuknya berasal dari percikan gelombang. Gelombang nyalang, ketika malam sangat hening dan tak ada suara lain terdengar selain deru gelombang yang panjang.

Dan perempuan itu mulai melangkah gemulai. Matanya menatap bulan yang nampak bulat sempurna. Dari wujud kesempurnaan bulan, mata perempuan terbentuk, sangat terang dan meneduhkan bagi siapa pun yang beradu pandang. Ia merentangkan tangan. Lalu satu demi satu tetes air terbang membalut tubuhnya. Lantas buliran air itu berubah menjadi gaun putih nan anggun. Berpadu padan dengan wajahnya yang seterang cahaya bulan.

Lalu perempuan itu b…

Iwan Simatupang, Pembaru Sastra Indonesia

Nelson Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

IWAN Simatupang, lengkapnya Iwan Martua Dongan Simatupang, merupakan bungsu dari lima bersaudara. Lahir di Sibolga, Sumatera Utara, pada 18 Januari 1928. Dan wafat di Jakarta 4 Agustus 1970. Pendidikan Iwan di SMA Padang Sidempuan terhenti karena Agresi Belanda II (1948), lalu ia pun aktif sebagai Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Setamat HBS V/B Medan (1953) ia masuk Sekolah Kedokteran Surabaya, tidak tamat, lantaran berangkat ke Negeri Belanda.

Iwan mendalami Antropologi Budaya di Leiden (1956). Mengikuti Full Cource International Institute for Social Studies di Den Haag, dan Ecole d L’Eroupe (Brugge) di samping menekuni drama di Amsterdam (1957). Kemudian ia juga belajar Filsafat Barat pada Prof Jean Wahl di Sorbonne University (Paris, 1958) sambil bekerja di restoran untuk menghidupi keluarganya.

Akhir 1958 Iwan kembali ke Tanah Air. Menetap sebentar di Cipanas, lantas pindah ke Bogor, menghuni Hotel Salak Kamar 52 yang kemudi…

Detektif di Ladang Sastra

Khudori Husnan *
Pikiran Rakyat, 31 Okt 2010

DARI cara pandang Binhad Nurrohmat kritik sastra selalu perspektif (“Kritik dan Hama Sastra”, Pikiran Rakyat, 19 September 2010). Menurut dia, “perspektif selalu punya batas; dan kritik sastra dibatasi perspektifnya. Tiada perspektif total-sempurna.” Dua pekan dari tulisan tersebut Maman S. Mahayana menjawab “perspektif dalam kritik sastra bukanlah pendekatan … Dalam kritik sastra, ada tiga jenis penilaian, yaitu penilaian absolut, relatif, dan perspektif.” (“Seolah-olah Kritik Sastra”, Pikiran Rakyat, 3 Oktober 2010). Dua tulisan tersebut berhasil memicu hasrat untuk memikirkan kembali peran kritik dan kritikus sastra.

Atas pernyataan Nurrohmat di atas Mahayana wajib resah karena bila penyataan tersebut diterima sepenuhnya kemungkinan besar kurikulum sastra dan kritik sastra semakin jauh terabaikan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Jika ruang lingkup kritikus sastra direduksi menjadi sekadar ilmu perspektif maka semua orang, dengan kek…

Fitri Yani: Hidup Artistik dengan Seni

Ni’matus Shaumi
teknokraunila, 15 Nov 2008

IA kini jadi salah satu penyair muda Lampung yang cukup disegani. Kecintaan Fitri Yani kepada puisi membuatnya berkomitmen akan terus berkarya sampai kapan pun. Karena baginya hidup dengan kesenian adalah hidup yang artistik.

Perkenalannya dengan puisi dan sastra dimulai sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kala itu ia suka membaca pantun dan puisi yang ada dibuku- buku pelajaran Bahasa Indonesia. Sejak itu ia mulai tertarik dengan puisi dan sastra. Fitri mulai suka menulis puisi. Apalagi guru Bahasa Indonesianya kerap memberi tugas untuk membuat puisi dan mengarang. Puisi-puisinya pun sering menghiasi majalah dinding sekolahnya.

Hobi dan bakatnya terus berlanjut menginjak Sekolah Menengah Atas (SMA). Eksistensinya didunia sastra mulai dibuktikan saat ia berkesempatan mengikuti Bengkel Sastra siswa SMA Se-Bandar Lampung. Ia mendapat Juara II Penulisan Puisi. Mulai saat itu ia sering pula diminta teman-temannya membuatkan puisi khusus untuk m…

Puisi, Korupsi, & Kritik Tradisi

Munawir Aziz*
Pikiran Rakyat, 5 April 2009

KORUPSI menjadi polemik dan bencana dan ruang kehidupan bangsa ini. Menghadapi polemik ini, sastra bertugas memberi wawasan segar dan pencerahan kreatif kepada publik luas, agar menghindar dari jerat korupsi. Virus korupsi seolah menggerakkan energi iblis untuk melahirkan setan-setan baru yang menghancurkan negara dan tatanan kehidupan. Masa depan bangsa ini dihimpit suramnya badai korupsi. Di tengah badai, sastra bertugas menangkis korupsi dengan menginspirasi pembaca sebanyak-banyaknya agar menghindar dari terjangan korupsi.

Karya sastra yang lahir untuk mencerdaskan bangsa ini, hendaknya menempatkan antikorupsi sebagai wacana yang terus dikampanyekan. Tanggung jawab sosial sastrawan adalah mengupayakan perbaikan hidup dengan menjelaskan kondisi kritis yang merenggut masa depan bangsa ini. Maka, karya sastra yang menggambarkan perlawanan terhadap tradisi korupsi patut didukung dengan pemikiran dan gerakan kongkret.

Melawan korupsi berarti m…

(Sekali Lagi) Membincang (tentang) ”Sastra Pesantren”

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

”Kalau ada sastrawan kita yang merasa terpanggil untuk menggarap kehidupan pesantren sebagai objek sastra nantinya, terlebih dahulu harus diyakininya persoalan-persoalan dramatis yang akan dikemukakannya. Tanpa penguasaan penuh, hasilnya hanyalah akan berisi kedangkalan pandangan belaka” (Abdurrahman Wahid, 2001)

Bagi penulis yang tidak terlalu akrab dengan kehidupan pesantren, pernyataan di atas sesungguhnya menyimpan kemasygulan. Bagaimana mungkin bagi diri penulis untuk menulis sastra dengan menjadikan pesantren sebagi objeknya, sementara penulis sendiri tidak terlalu akrab dengan dunia pesantren itu sendiri?

Barangkali inilah yang pernah disebut oleh sastrawan-penyair Acep Zamzam Noor—seperti apa yang dirasakan oleh penulis—sebagai ’beban’ tersendiri ketika ingin bersastra-pesantren, menulis sastra pesantren, atau sekian embel-embel lain yang berkaitan dengan sastra-pesantren. Di sisi lain, penulis sepakat dengan ungkapan Gus Dur di …

CYBERSASTRA: PENTINGKAH?

Pengantar buku “SENYAWA KATA KITA” Antologi Puisi Komunitas Cybersastra TITAH PENA HAMBA – DISKUSI SASTRA ONLINE
Hadi Napster
http://sastra-indonesia.com/

Jika ada yang bertanya tentang muasal lahirnya buku Antologi Puisi SENYAWA KATA KITA yang sangat sederhana ini, maka jawabannya adalah: cybersastra. Ya, sebuah transformasi baru dalam laju periodisasi kesusastraan yang mulai familiar dikenal sejak sekitar tahun 2001. Atau lebih tepatnya kala budaya internet mulai mewabah dalam geliat kehidupan sehari-hari di seantero negeri. Tak dapat dipungkiri, bahwa kehadiran cybersastra memang telah membawa dampak besar dalam dunia sastra. Laksana tamu tak diundang yang datang mengetuk pintu hati para penggiat, pemerhati, hingga peneliti sastra yang selama ini seakan terkunci. Meski oleh berbagai kalangan, diam-diam masih menjadi perdebatan, apakah kehadiran gaya baru bersastra ini membawa hal positif atau negatif? Lantas, apa saja sebenarnya yang telah, sedang dan akan terjadi melalui cyb…

Sastra-Indonesia.com