Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Menulis Cerpen, Jadinya Novel

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

SALAH seorang anggota Sekolah Menulis Paragraf (SMP) yang saya (dan beberapa kawan penulis Riau) gerakkan, sering tak bisa menulis cerpen yang “standar.” Selalu saja, cerpen yang ia tulis, panjang-panjang. Memang, kata “standar” itu batasan-batasannya masih relatif. Setidaknya kita bolehlah bersepakat dengan sastrawan Amerika, Edgar Allan Poe, yang pernah bilang bahwa cerpen itu “dapat dibaca sekali duduk.”

Tapi, adik-adik, kecenderungan dan perkembangan proses kreatif si penulis tentu tak bisa begitu saja diatur-atur. Tak ada kata tidak boleh begitu, dan tidak boleh begini bagi si penulis ketika ia sedang masuk ke wilayah penciptaan. Menulislah dengan “merdeka.” Kemerdekaan ini sebetulnya yang lebih memberi peluang besar bagi si penulis untuk menghasilkan karya-karya yang “baru” dengan capaian-capaian estetika yang “luas”. Meski, memang, berbagai standar yang kerap kita temui selama ini, ya begitulah bentuknya puisi, ya begitulah pula bentuknya cer…

LELATU DALAM TUNGKU

KRT. Suryanto Sastroatmodjo
http://www.sastra-indonesia.com/

Andaikata bapak benar, siapakah yang rela disekap di balik jeruji, karena membisikkan hasil-lamunan yang seronok? Oh, aku banyak sekali menyandang kemualan, kendatipun yang kukejar adalah kemuliaan. Aku banyak sekali tertikam runtuk-lantak, walaupun sedari muda, selalu berkeinginan untuk merangkum pesan nan khusus.

Sriatun ananda sayang.
Sekali lagi, bapaklah yang paling pantas dituding dalam peristiwa ini, nak. Andaikata bapak tidak terlalu lancang mengucapkan kata-kata demikian, mustahil lagu duka itu singgah di sukmamu. Aku masih juga kurang menyadari, dikau telah berangkat remaja, nak. Sewajarnya, bapak merengkuh lebih hati-hati lagi. Orang Jawa bilang, mengasuh seorang gadis lebih pelik dan sukar, ibaratnya mengawasi lelatu dalam tungku. Dibiarkan api menyala, akan hangus tanpa manfaat. Kalau api ditunggu dan ditiup tanpa menggunakannya untuk merebus ataupun memasak, sama artinya dengan percuma menggantang asap dalam ketida…

TERBANGLAH SI BURUNG MERAK

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Rendra (7 November 1935 – 6 Agustus 2009), Si Burung Merak itu, akhirnya terbanglah. Sekian lama ia terbaring di rumah sakit, selama itu pula serangkaian doa untuk kesembuhannya terus dilantunkan oleh sejumlah komunitas seniman di berbagai kota di Indonesia. Bahkan, para seniman di Malaysia, yang memang mengenal baik sosok Rendra, sengaja mengumandangkan doa bersama. Meskipun Tuhan berkehendak lain, kita menangkap adanya gelombang solidaritas atas seseorang yang sudah dianggap milik bersama. Fenomena apakah gerangan sehingga para seniman tiba-tiba bergerak berdoa bersama tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seorang Rendra?

Si Burung Merak dengan segala sepak terjangnya menjadi simbol bagi sebuah totalitas kerja berkesenian. Rendra telah menjelma menjadi ikon tentang sikap dan kiprah seniman sejati yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kerja sastra, seni, dan martabat kebudayaan bangsanya. Maka, seorang manusia Rendra hadir dalam kehid…

Pengalaman dari Anugerah Sastra

Husen Arifin
http://www.surya.co.id/

Ada hal berkesan ketika saya mengikuti Launching Buku dan Penganugerahan Lomba Cipta Cerpen, Esai dan Puisi Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia di STAIN Purwokerto kerja sama LPM Obsesi dan DeMa STAIN Purwokerto tanggal 9-10 Maret 2010. Saya salah satu finalis dari UIN Maliki Malang, Zulfa dari Universitas Brawijaya, dan Royyan Julian dari Universitas Negeri Malang (UM).

Berangkat dari Malang dengan kereta Gajayana, Senin (8/3) pukul 16.25 WIB. Perjalanan begitu menyenangkan.
Hampir subuh saya dan teman-teman dari Universitas di seantero Indonesia saling mengucapkan salam jumpa. Salam kesejahteraan untuk mengawali hari-hari yang penuh dengan keceriaan. Teman-teman dari UPI Bandung, Uhamka Depok, IAIN Walisongo Semarang, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UNS Surakarta, IAIN Imam Bonjol Padang dan lain-lainnya.

Setibanya di STAIN Purwokerto, Selasa 9 Maret 2010, saya mengikuti Launching Antologi Puisi “Menolak Lupa” bersama dengan narasumber Evi Idawati (Novelis,…

Resital Sastra dari Negeri Kata-kata

Rusdy Nurdiansyah
http://www.infoanda.com/Republika

Perahu.
Saudagar.
Belayar, dari bandar ke bandar, rumah pecah beribu.
Kamar, tengah menganga, sejarah samudera berdarah luka.
Keduanya tak bisa lagi ditawar, tak bisa lagi diputar, tak pula dapat ditukar.
Perahu.
Bandar.
Bertolak belayar mencari jangkar, saudagar tak sempat lagi menghitung dinar.
Menghitung ringgit, menukar dolar.

Itulah sekelumit sajak Hasan Aspahani berjudul Saudagar, Bandar, Beras Setakar yang dibacakan pada acara Resital sastra Dari Negeri Kata-Kata di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Ahad, (29/1).

Acara yang diselenggarakan Yayasan Panggung Melayu ini diisi oleh Cakap-Cakap Rampai Sastra dan Pembacaan Puisi serta Cerpen dari budayawan dan penyair Kepulauan Riau yakni Hasan Aspahani, Hoesnizar Hood, Machzumi Dawood, Ramon Damora, Samson Rambah Pasir, Tarmizi, dan penyair Jemputan, Asrizal Nur dengan moderator sastrawan Maman S Mahayana.

Sebagai negeri kata-kata, Kepulauan Riau, sejak zaman Raja Ali Haj…

Dunia Tanpa Kotak Para Penyair Bali

Gandra Gupta
http://www.jawapos.co.id/

Penilaian Bali sebagai gudangnya seniman nampaknya tak berlebihan. Dari seniman tradisional hingga kontemporer semua ada. Pun dengan penyairnya, yang leluasa beraktivitas, berkarya, tanpa terkotak-kotak kepentingan duniawi industri pariwisatanya.

Sebut saja nama I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang dikenal dengan sebutan Putu Wijaya, tak pelak orang pun taka sing dengannya. Pria kelahiran Puri Anom, Tabanan, 11 April 1944 silam, ini adalah sosok seniman serba bias, yang melahirkan banyak karya fenomenal. Di antaranya novel Putri. Di khasanah puisi, dia sempat meraih gelar juara lomba puisi Suluh Indonesia Bali, beberapa tahun silam.

Seniman yang diakrabi dengan topi khasnya ini juga peshor dalam penulisan skenario film, juga drama. Karya-karyanya banyak jadi rujukan dan panduan sastrawan di tanah air.

Atau almarhum I Made Sanggra, tokoh sastra Bali modern yang dikenal lewat cerpen Ketemu Ring Tampaksiring yang berbahasa Bali. Sosok yang satu ini di ta…

Teror yang Menyastra

Cunong N. Suraja
http://nasional.kompas.com/

Sastra teror dikenalkan oleh Putu Wijaya terutama dalam bentuk drama dan dalam kisah cerita pendek dan novelnya. Kisah kisah Putu Wijaya memang memberi tikungan dan logika yang kebalik atau istilahnya logika gila.

Seperti dalam novel “Lho” logika Putu yang selalu awas mencurigai sekelilingnya seakan-akan mengancam membunuh tokoh novel. Demikian juga dalam Novel pendek “Sobat” tokoh Aji dibunuh karena kecemburuan dan ujung kisahnya si Pembunuh tergantung di tiang listrik seakan dendeng kering. Belum lagi cerita panjang “Stasiun” tokoh orang tua yang berangkat dengan bemo menuju ke stasiun mau meninggalkan kota atau pindah ke kota lain yang juga menggantung diri atau diperkosa homo di paturasan kereta yang sedang berjalan dengan keadaan penuh sesak.

Putu memang jagonya dalam meneror penonton drama lewat drama “Lho” yang mengenalkan monolog kentut dan “Zat’ dengan beragam boneka dan kecepatan percakapan bahkan tanpa kata yang merupakan perkembanga…

Guru Pedalaman Papua Juara Menulis Novel

Widodo
http://nasional.kompas.com/

SULITNYA kondisi dan lingkungan mengajar di sekolah daerah terpencil Muting, Merauke provinsi Papua memberi inspirasi Eko Ari Prabowo untuk menulis novel. Karya tersebut, diikutkan dalam lomba Penulisan Naskah Buku Pengayaan yang diadakan oleh Depdiknas periode Februari-Agustus 2008, dan menjadi juara I berhak atas piagam dan uang Rp 17 juta.

Eko yang dihubungi via telepon menuturkan, guru di SMPN 1 Muting Merauke berjumlah 10 orang dengan murid kelas 1-6 ada 167 anak. SMPN 1 Muting memiliki 6 lokal dengan 3 kondisinya rusak parah. Lokasinya sekitar 365 kilometer dari kota Merauke dengan akses jalan darat yang masih minim dan dipenuhi hutan lebat banyak sungai-sungai.

Naskah karyanya diberi judul “Petualangan Rendy” mengisahkan pengalaman seorang pendidik mengabdikan diri di daerah terpencil. Mirip dengan pengalaman hidupnya sendiri. Novel tersebut berhasil masuk menjadi finalis setelah menyisihkan 894 naskah dari 31 provinsi lainnya. Hingga lolos ke fin…

Mengasong Sastra di Kemacetan Jalanan

R. Sugiarti *
http://www.sinarharapan.co.id/

seekor kucing kurus menggondol ikan asin
lauk makanku malam ini hap kuambil sebilah pisau Akan kubunuh kucing itu
meong…
eh..dia tak lari meong…
malah memandangku tajam dengan matanya
meong…
tanganku yang memegang pisau bergetar
aku melihat diriku pada kucing ini
akhirnya kami berbagi kuberi dia kepalanya dan aku badannya
akhirnya kami makan bersama tentu saja dari piring yang berbeda
(puisi seorang pengamen puisi di bus kota yang dibawakan dengan sangat atraktif. Konon puisi ini diciptakan oleh sang pembaca dengan teman-temannya)

Bermula karena uang, kota-kota besar selalu mempunyai dinamika yang tinggi. Pergerakan manusia yang ada di dalamnya begitu mobil. Akibatnya, banyak peluang dipaksa tercipta.

Setiap sudut yang tercecer dimanfaatkan dengan bermacam kreativitas, meski terkadang naif. Sisi kosong trotoar, halte, bawah jembatan layang jalan tol, taman kota, dan banyak ruang kosong lainnya menjelma lahan bisnis yang terus berkembang pesat. Bis kota p…

Sebuah Esei Kenangan Seorang Sastrawan

Dari Era Soekarno ke Soeharto (1)
Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Di tahun 1963 aku terdampar di sebuah rumah petak berjendela lebar kawat kandang ayam di Jakarta. Rumah ini terkenal sebagai sebuah sanggar beberapa pelukis, Sanggar Bambu namanya. Ketuanya Sunarto Pr. Di sanggar itu tinggal pelukis Mulyadi, Danarto dan lain-lain. Di ujung bangunan berpetak-petak itu ada petak yang ditinggali seorang ibu yang baik hati yang membuka sebuah warung yang laris. Ibu itu sangat baik hati. Dengan menyediakan sebuah buku tulis langsing sepanjang dua kali buku tulis biasa dia menyuruh para pelukis dan tamu mereka menulis apa yang dimakan. Beberapa kali menulis di buku itu (berarti berutang beberapa piring) aku memandang mata sang ibu. Celakanya, ibu yang baik hati itu hanya memiliki satu mata sehingga walaupun ia tidak menagih utang, aku merasa ada sinar laser yang datang dari matanya menembus dadaku dan dalam imajinasiku aku terlontar keluar lalu berkata dalam hati, sebaiknya lekas c…

Sebuah Esai Kenangan Seorang Sastrawan

Dari Era Soekarno Ke Soeharto (2)
Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Kantor majalah Kuncung memang menjadi tempat seniman berusil ria, bernyentrik-nyentrik. Menurut cerita seniman Hartoyo Andangjaya, yang paling nyentrik dan usil di eranya adalah seniman Tirnoyuwono. Suatu hari di masa Mulyanto menempati kantor Kuncung, Tirnoyuwono datang dari Bandung. Seperti biasa ia nginap tetapi pada suatu siang ia lapar. Karena tidak punya uang ia menyeberang ke dapur tetangga, lalu minta makan kepada babu. Sementara makan, yang punya rumah suami isteri datang. Karuan, ia masuk ke kolong tempat masak yang terbuat dari beton tebal lalu menutup diri dengan kaleng arang. Beberapa jam ia terlipat di sana sampai tuan rumah tidur siang sehabis makan.

Uniknya, beberapa seniman miskin yang berputar-putar di sekitar sebuah perpustakaan kumuh dan kamar sempat seorang penyair, berani-beraninya menandatangani Manifes Kebudayaan yang menghebohkan itu. Iwan Simatupang sampai sedikit mengejek bahwa kelom…

Sastra, Kebangsaan, Konferensi

Ahda Imran
http://pr.qiandra.net.id/

HUBUNGAN antara sastra dan proses terbentuknya kesadaran suatu bangsa adalah hubungan yang niscaya. Sejarah kesusastraan, di mana pun, senantiasa memiliki korelasi dengan proses berlangsungnya karakteristik suatu bangsa, bagaimana kesadaaran itu tumbuh dan berproses dalam berbagai perdebatan, bahkan pertentangan. Dengan kata lain, berbagai perdebatan dalam kesusastraan dan kebudayaan umumnya senantiasa berbanding lurus dengan perdebatan soal pembangunan kesadaran karakter bangsa dan kebangsaan. Terlebih lagi, nasionalisme senantiasa menghendaki bentuk-bentuk pengertian yang bergerak demi menjawab waktu dan ruangnya yang menjadi konteksnya.

Namun demikian, dalam berbagai perkembangan, politik pembangunan negara yang dikembangkan lembaga pemerintahan, sangatlah langka melibatkan kesusastraan dalam berbagai penyusunan kebijakannya. Alih-alih kesusastraan (dan kebudayaan umumnya) dipercaya sebagai ruang kesadaran demi memaknai nasionalisme, pada masa Orde…

Pemartabatan Sastra dan Ironi Hadiah Mastera

Wowok Hesti Prabowo
http://www.infoanda.com/Republika

Dalam seminar Mabbim (Majelis Bahasa Brunei Indonesia dan Malaysia) dan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) di Jakarta, 7-8 April 2008, diberikan penghargaan kepada dua ‘penulis muda’ Indonesia. Yang pertama, Penghargaan Pusat Bahasa diberikan kepada Habiburrahman El-Shirazy, dan yang kedua Penghargaan Mastera diberikan kepada Ayu Utami.

Penghargaan yang diberikan kepada Ayu Utami sempat mengundang tanda tanya banyak pihak, termasuk para peserta seminar. Mereka terkejut, di tengah semangat untuk menegakkan moralitas bangsa-bangsa serumpun Melayu melalui sastra, justru Mastera memberikan penghargaan kepada seorang penulis perempuan yang mendukung GSM (gerakan seks merdeka pinjam istilah Taufiq Ismail), menolak lembaga perkawinan, dan menganggap penegakan moral sebagai penindasan.

Pada banyak tulisan dan kiprahnya, Ayu Utami berpihak pada pornografi dan kebebasan seks, sementara para anggota Mabbim dan Mastera sedang memerangi pornogr…

Posisi Negeri Pengarang di Jawa Timur

(Surat Terbuka Buat Arif B Prasetya, W Hariyanto, Fachrudin Nasrullah, Rahmat Giryadi)
S. Jai *)
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

HAMPIR pasti tiada suatu negeri tanpa bayang-bayang penguasa. Fatalnya hal serupa terjadi pada negeri sastra—tempat berdiam puisi, prosa atau drama. Ini yang tertangkap dari sebalik ulasan kritikus sastra Arif Bagus Prasetyo tentang “Jawa Timur Negeri Puisi,” Jawa Pos 25 Juli lalu.

Prosa berada di bawah bayang-bayang puisi. Sementara ekspresi penyair berada di sebalik kurungan keengganan dan kemiskinan berbahasa Indonesia. Dengan kata lain visi kepenyairan lebih berada di bawah ketaksadaran ketimbang kesadaran akan—dalam bahasa Gadamer—bildung, weltanchauung, sensus communis, judgement, taste.

Artinya prosa Jawa Timur dapat dikatakan sedang koma atau luluh lantak di mata kritikus yang kini tinggal di Denpasar, Bali tersebut. Akan tetapi Arif tidak sendiri mensinyalir demikian. Tengara serupa terbit beberapa hari sebelumnya, Selasa 20 Juli 2010 dalam sebuah semin…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com