Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Balada Seorang Rendra

W.S. Rendra telah tiada. Adakah saya bisa berpaling?
Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Suatu hari saya dengar pidatonya. Suaranya menggelegar. Tangannya bagaikan kaki burung merak, tajam, menukik-menghantam.

Siang itu di salah satu galeri di Jakarta ia berpakaian serba-putih hingga tampak gagah dan berwibawa. Itulah busana yang selalu mengingatkan saya kepada sosok Bung Karno. Dan foto Rendra memang sering disandingkan dengan foto Bung Karno. Keduanya sama-sama gagah. Necis. Dan tampak plamboyan. Bahkan pidato-pidato keduanya sama-sama memukau.

Tapi Rendra seorang penyair, bukan politikus. Kalau pun sajak-sajaknya sangat politis, sosialis, namun ia tak pernah mencatatkan dirinya sebagai salah satu anggota atau pimpinan sebuah partai politik.

Cita-rasanya adalah cita-rasa seorang penyair. Sebagai seorang penyair, hidupnya selalu gelisah, cemas, tapi sekaligus pemberontak yang meradang-nerjang hingga nyaris tak bisa dikekang oleh kekuasaan otoritarian sekalipun.

Sajak-sajak pamfletny…

Filsafat untuk Calon Intelektual

Hasnan Bachtiar
http://sastra-indonesia.com/

SANGAT PENTING filsafat dikenalkan kepada calon intelektual. Filsafat adalah jendela pengetahuan, sekaligus kebudayaan yang mengusung nilai-nilai dan kebiasaan kritis dalam membaca kehidupan. Karena itu, tidak heran jika prinsip-prinsip fundamental kehidupan seperti kebersamaan, keadilan, dan hubungan sosial yang baik, berangkat dari pendalaman filsafat yang serius (prihatin).

Filsafat juga bermakna memanusiakan manusia. Intelektualitas manusia menjadi tanda bahwa ia berbeda dengan selainnya (the other). Menimbang hal ini, Pythagoras menyindir bahwa, “Jika manusia ingin hidup senang, maka hendaklah rela dianggap sebagai yang tidak berakal.” (Mulyadi Kartanegara, the Best Chicken Soup of the Philosophers, 2005: 29). Sindiran ini berlaku bagi mereka yang tidak prihatin dengan kehidupan atau bagi mereka yang tidak berfilsafat, karena bukan berarti bahwa “hidup senang” adalah kehidupan yang terbaik.

Kehidupan itu, kesenangan dan kesedihan. Namu…

Penyair dan Alquran dalam Rekaman Sejarah

Aguk Irawan MN*
http://www.infoanda.com/Republika

Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu’ara, 224-227)

Di dalam literatur kesusastraan Arab, sebagaimana direkam oleh Syauqi Dlaif dalam buku Tarikh al-Adab al-Arabi (Kairo: Dar al-Maarif, 1968), dijelaskan ahwa Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, tidak saja membawa petunjuk yang benar, tapi juga sebagai ‘penyaing’ keulungan sastra Jahily.

Keulungan sastra Jahily saat itu memang tak diragukan lagi oleh banyak pengamat kebudayaan. Manuskrip-manukskrip kuno (sastra Jahily), membuktikan hal itu. Tetapi, pada zaman itu jangan ditanya bagaimana etika dan moral masyarakatnya. Ibnu Qutaibah dalam buku Asy-Syi’ir wa as-Asyu’ara (Beirut: Dar ats-Tsaq…

ZIARAH KUBUR

Ahmad Zaini
http://sastra-indonesia.com/

Sore itu suasana di kampung halaman ramai oleh lalu lalang orang yang pergi ke makam. Mereka membawa karangan bunga untuk berziarah, mendoakan para leluhur dan orang tuanya yang sudah meninggal dunia. Di kampung halamanku memang ada tradisi setiap menjelang bulan puasa masyarakat pergi ke makam untuk mendoakan para arwah anggota keluarganya agar mendapatkan rahmat dan ampunan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Haji Mabrur

Akhmad Muhaimin Azzet *
http://www.kompasiana.com/akhmad_muhaimin_azzet

Hati Hasan berbunga-bunga. Lembaran uang sejumlah dua juta rupiah kini dalam genggamannya. Berarti, pikir Hasan, bila ditambah dengan tabungannya di bank yang sudah berjumlah dua puluh lima juta, genap sudah untuk ongkos naik haji. Sungguh, malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan bagi Hasan.

Meski malam telah larut, Hasan tak juga beranjak tidur. Saking bahagianya, Hasan belum ingin memejamkan mata. Sedangkan istrinya, tampak telah tertidur pulas. Tak ingin mengusik istirahat istri tercintanya, Hasan berjalan pelan ke ruang tamu dengan masih menggenggam uang dua jutanya. Ia ingin menikmati malam ini dengan banyak bersyukur.

“Melaksanakan ibadah haji ke tanah suci adalah kewajiban bagi setiap muslim yang telah mampu. Bagi yang belum mampu, yang penting ada niat untuk melaksanakannya. Kalau sudah niat, percayalah, Allah akan memberi banyak kemudahan,” demikian dikatakan Kiai Zaenal dalam sebuah pengajian pa…

BELAJAR MENULIS DARI HARDJONO WS*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Pada akhir 2007 lalu, ketika SMA Immersion menghadirkan dua sastrawan Jawa Timur: (a) Hardjono WS dan (b) HU Mardiluhung dalam rangka “bedah kreativitas kepenyairan” dan “kreativitas pembelajaran sastra” ada hal menarik dari apa yang dikemukakan oleh Hardjono WS. Apa? Saat itu, ketika di usai pemberian hadiah Lomba Menulis Cerpen Remaja 2007, dia mengungkapkan beberapa hal penting (a) ketekunannya atas profesi menulis, dan dia hidup dari menulis (b) menulis adalah ciri manusia kalau tidak menulis bukan manusia, (c) mengajarkan sastra (termasuk membacanya) adalah wilayah kebebasan yang tidak terikat oleh pagar benar atau salah, dan (d) pentingnya menanamkan membaca dan menulis pada anak-anak.

Hadir juga pada acara itu, Prof. Setyo Yuwono Sudikan, M.A., Kepala Dinas Pendidikan Ponorogo, Ketua Balai Bahasa Surabaya, Ketua STAIN Ponorogo, Suyatno pengarang buku pembelajaran sastra dari Surabaya. Sebuah ruang refleksi berkesusastraan dan berkep…

Mitos Indonesia

Radhar Panca Dahana
Kompas, 19 Mei 2010

SEJAK pertama kita beraktivitas hidup masa kini, sebenarnya ada kenyataan baru sadar atau tidak yang kita akui: Indonesia, negeri tempat kita bertaut dan mengacu diri, ternyata telah menjadi mitos.

Kenyataan baru telah menggeser kenyataan menjadi dunia abstrak, gelap, tak terukur, dan terpendam di dasar ingatan.

Dunia baru yang menghidupi dan kita hidupi saat ini adalah sebuah ruang yang diisi berbagai tatanan yang mengartifisialisasi, mematerialisasi, menyuperfisialisasi, hampir semua perangkat dasar kemanusiaan kita, baik fisikal, mental-spiritual, maupun intelektual. Semua jadi terukur, mekanis, dan praktis. Dalam gradasi keakutan masing-masing, hidup kian pragmatis, oportunis, bahkan hedonis.

Apa yang kita bayangkan sebagai manusia (kepulauan) Indonesia yang ramah, santun, jujur-percaya, spiritualistis, gotong royong, empatik, atau penuh rasa hormat, tinggal jadi cerita usang. Dalam lelucon, sinisme, fabel, atau roman-roman, sastra lisan dan…

Menyoal Pengajaran Sastra

Eko Triono
Lampung Post, 27 Nov 2010

1.
SUATU hari, di tahun 1964, sebuah catatan beredar. Ia menjadi diktum teori keberhasilan individu, yang apabila dijejer dengan teori, juga praktek pendidikan, adalah mata tembilang dalam cambuk menuju “kesuci-bahagiaan-hidup”; sebuah konklusi peta dan “petakon” arah, mungkin juga sebuah cara yang sedikit malu di meja sekolah. Catatan itu menutur perihal striving for succes or superiority:…satu-satunya kekuatan dinamis di balik perilaku manusia adalah perjuangan menuju keberhasilan atau keunggulan. Penulisnya lahir pada jarak waktu juga tempat yang jauh dari kita, 7 Februari 1870, di Rudolfsheim, Wina. Dia diberi nama oleh Leopold dan Pauline dengan: Alfred Adler.

Sastra (dengan cukup memaksa dan menggebu) saya sebut sebagai salah satu perjuangan itu. Di mana pada bangunan “rumah”-nya terperangkap daya kreatif dan ambisi simpul persepsi yang siap meledakkan individu pada penemuan lanskap diri; sebuah style of life. Juga penjabar-ejawantah ide, sep…

Leksikologi ala Indonesia

Eko Endarmoko
Kompas, 26 Nov 2010

PADA 5-6 Oktober lalu Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Atma Jaya menyelenggarakan acara pertemuan linguistik bertemakan ”Bahasa dan Kekuasaan”. Pada akhir acara di hari kedua dilangsungkan diskusi panel tentang tesaurus Indonesia.

Dalam acara kebahasaan tahunan berskala nasional itu tak terlihat seorang pun pegawai Pusat Bahasa. Padahal dalam acara itu, Rahayu Surtiati Hidayat dari UI menyimpulkan, secara yuridis cukup bukti memerkarakan kasus plagiarisme Tesaurus secara akademik. Kata Rahayu: cukup bukti mengajukan kasus ini kepada Dewan etika yang mengawasi perilaku peneliti Indonesia, termasuk peneliti Pusat Bahasa.

Yang menarik, di tengah cukup gencarnya—jika diperhitungkan pula pelbagai komentar keras di dunia maya Twitter dan Facebook—serangan dan tudingan telah melakukan penjiplakan, kantor bahasa yang menerbitkan Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia nyaris tak pernah memberi tanggapan.

Sampai hari ini barangkali baru sekelumit pandangan yang terl…

Literasi Memenangi Kehidupan

H Witdarmono
Kompas, 23 Nov 2010

AWAL abad XX ditandai oleh perang Rusia melawan Jepang (1904-1905). Rusia kalah pada pertempuran laut di Selat Tsushima 27-28 Mei 1905.

Geoffrey Jukes, penulis The Russo-Japanese War 1904-1905, mengatakan, penentu hasil perang itu bukanlah teknologi, tetapi tingkat literasi.

Hanya 20 persen personel militer Rusia bisa ”membaca dan menulis”. Akibatnya, banyak yang tidak mampu mengoperasikan secara benar persenjataan modern (saat itu) dan sistem telegraf nirkabel yang diimpor dari Jerman. Serangan Rusia sering salah sasaran karena salah membaca peta dan salah mengoperasikan jaringan komunikasi.

Sebaliknya, hampir semua tentara Jepang tahu ”membaca dan menulis”. Mereka mahir menggunakan persenjataan militer modern dan memanfaatkan infrastruktur intelijen militer secara benar. Jepang bahkan sudah memodifikasi sistem telegraf nirkabel dari Jerman.

Perang kerajaan Spanyol dan Inggris yang berakhir di Pantai Gravelines, Perancis, Agustus 1588, dimenangi oleh …

Tugas Sastra dari Al Capone…

Binhad Nurrohmat
Kompas, 16 Mei 2010

UANG kertas Rp 100.000 keluaran tahun 2004 berilustrasikan teks Proklamasi serta gambar Soekarno-Hatta dan gedung parlemen. Uang tak cuma alat tukar. Uang juga alat simbolik kekuasaan politik. Nalar modern melantari uang menguasai tata-kehidupan. Edukasi, seni, bahkan agama terjerat kuasa-uang. Tanpa kartu ATM dan kartu kredit kehidupan seakan macet.

Peredaran pengetahuan seperti putaran uang, kata Jean-Francois Lyotard. Perbedaan penting antara nilai edukasi dan politik bukan lagi soal mengetahui atau ketakacuhan, melainkan serupa uang. Lyotard menyatakan itu dalam The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. Risalah itu membincang narasi alit yang becus mengendus bentuk sari pati penemuan imajinasi dan memudarnya pamor narasi besar. Baginya, konsensus tak kuasa lagi menopang kriteria kesahihan. Juru pemecahnya adalah paralogi. Paralogi memasuki kenyataan lewat ”jalan-jalan samping”, bukan ”jalan besar” warisan modernisme yang sudah buntu. Par…

Memahami Orang Aceh Melalui Peribahasa

Herman RN
Kompas, 30 Mei 2010

BANYAK cara dapat dilakukan untuk memahami karakteristik masyarakat Aceh. Peribahasa dalam sastra lisan, misalnya, menjadi salah satu cara yang dapat digunakan.

Peribahasa adalah salah satu bentuk sastra lisan. Tidak hanya mengkaji karakteristik masyarakat, peribahasa juga dapat menilai, menasihati, dan mengkritik orang lain. Bagi masyarakat Aceh, yang senang menyebut dirinya dengan ureueng Aceh, peribahasa dikenal dengan hadih maja.

Hadih maja sudah menjadi ”petuah” bagi masyarakat Aceh sepanjang zaman. Ini dibuktikan oleh Mohd Harun, pengajar sastra, adat, dan budaya di Universitas Syiah Kuala, dalam bukunya, Memahami Orang Aceh. Beranjak dari sebuah disertasi, buku ini menjadi dokumentasi yang secara kuat mengangkat karakteristik dan tipologi masyarakat Aceh. Apalagi, penelitiannya dititikberatkan pada hadih maja, yang memang umumnya dijadikan filosofi oleh masyarakat Aceh. Karena itu, buku setebal 304 halaman ini patut menjadi cermin kehidupan masyara…

Goenawan Mohamad: Tentang Puisi dan Pemikiran

Asarpin
http://asarpin.blogspot.com/

Dua hal akan dengan gampang dikorbankan dalam krisis ekonomi yang seberat ini, di samping tenaga buruh, itu adalah seni dan pemikiran. Keduanya sudah pasti bukan termasuk bahan pokok. Keduanya juga lebih sering memakan beaya ketimbang menjadi sumber dana. Keduanya tak jarang merisaukan.

–GOENAWAN MOHAMAD, “Menangkis Negara, Menangkal Pasar”, dalam Utan Kayu Tafsir Dalam Permainan, Kalam, Jakarta : Agustus 1998, h. ix

Seni—termasuk puisi—memang tak sepenuhnya bisa diharapkan untuk mengubah dunia. Sebab puisi lebih bersifat pribadi, mungkin juga kemewahan terselubung seperti sering disinggung banyak orang beberapa tahun lalu, dan posisinya akan terus terpencil dari kehidupan yang mengejar serba-besar lewat perjuangan dan tanggungjawab.

Maka, ketimbang terus berharap agar puisi bisa mengubah dunia, lebih baik “menatap dan menampung dunia sebagai kemungkinan-kemungkinan”, kata Hasif Amini dalam pengantar jurnal Prosa No.3/2003. Dan Leo Tolstoy pernah j…

Sastra-Indonesia.com