Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

BABAD NUCA NEPA (FLORES)

Membaca “kedangkalan” logika Dr. Ignas Kleden?
(bagian XIV, kupasan ke nol dari sebelum paragraf ketiganya)
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

“Wahrheiten wollen erkannt und festgestellt, eben bewahrheitet sein; die Wahrheit selbst bedarf dessen nicht, sondern sie ist es, die allein bewährt, was irgend als wahr erkannt sein und gelten soll.” “Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu sendiri tidak perlu akan itu, karena ialah yang menunjukkan, apa yang diketahui benar dan harus berlaku." (Paul Natorp, Individuum und Gemeinschaft, terjemahan Dr. Mohammad Hatta).

Identitas dan Etnisitas (Melayu)

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 22 Jan 2012

PERBINCANGAN, bahkan perbalahan, mengenai (ke)melayu(an) belakangan ini marak kembali. Di harian ini, misalnya, setidaknya telah dimuat empat tulisan: 2 tulisan Marhalim Zaini (Riau Pos, 13 November 2011 serta 8 dan 15 Januari 2012), 1 tulisan Syaukani Al-Karim (Riau Pos, 20 November 2011), dan 1 tulisan Alvi Puspita (Riau Pos, 25 Desember 2011) yang meramaikan perbincangan itu. Esensi keempat tulisan itu adalah mempertanyakan apakah identitas etnis Melayu (kemelayuan) itu sudah pasti: bersifat tetap, tertutup, dan tak tergantikan atau sebaliknya, tidak pasti: bersifat berubah, terbuka, dan tergantikan (mengada).

Sastrawan Jawa Timur: Peta Kebangkitan Jaman

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Jawa Timur yang luasnya sekitar157.922 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk 36.294.280 merupakan wilayah fenomenik. Berbagai kajian keilmuan tak pernah sepi mengangkat Jawa Timur sebagai topik utama.

Dari sudut sastra, para esais sastra sedang gencar mengupas perihal tarik-ulur eksistensi kesusastraan yang pada akhirnya menguatkan titik fokus jati diri Jawa Timur sebagai wilayah kesusastraan tersendiri di Indonesia, wilayah yang tak lagi menjadikan Jakarta dan Melayu sebagai pusat imperium kesusasteraan.

Sastra Perempuan Tempo Dulu

Nova Christina
http://kompas-cetak/

Sastra Indonesia karya para perempuan penulis pada periode-periode sebelum 1990, setidaknya dapat dipilah menjadi tiga periodisasi. Pertama adalah masa ketika konsep Indonesia sebagai bangsa mulai matang dan mendekati masa kelahiran (1930-1950-an). Periode ini ditandai dengan kemunculan roman karya Soewarsih Djojopoespito, Buiten Het Gareel, pada tahun 1940.

Menelusuri Perjalanan Sastra Di Malang*

Denny Mizhar**
http://sastra-indonesia.com/

Sebelum saya mulai menulis tentang perjalanan sastra Malang, saya akan bercerita bagaimana saya sampai masuk pada pergumulan sastra di Malang. Tetapi sebenarnya saya, belum berani betul bicara soal perjalanan sastra di Malang. Disebabkan kawan Kholid Amrullah dari komunitas Lembah Ibarat meminta saya untuk menjadi pembicara mendampingi Pak Emil Sanosa untuk berbicara sejarah sastra di Malang. Padahal, saya telah merekomendasikan beberapa nama padanya, ini sebuah permintaan yang tak dapat saya tolak tetapi gamang bagi saya yang belum memiliki kapasitas memadahi berbicara sejarah sastra di Malang.

Karya Sastra dan Persoalan Media Massa

Renosta
__Pikiran Rakyat, 16 Juni 2011

Ada persoalan yang menggelisahkan menyangkut karya sastra dan media massa. Yaitu wacana media massa (mainstream) “tertentu” yang dianggap sebagai representasi dominan terhadap pencapaian estetis sebuah karya sastra. Sebenarnya wacana ini sudah menjadi bahan perbincangan masyarakat sastra Indonesia, namun tidak memberikan tawaran gagasan apa-apa, kecuali hanya polemik wacana saja.

Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah

M Raudah Jambak
http://www.hariansumutpos.com/

Pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah. Tak heran apabila mata pelajaran ini kemudian diberikan sejak masih di bangku SD hingga lulus SMA.

Dari situ diharapkan siswa mampu menguasai, memahami dan dapat mengimplementasikan keterampilan berbahasa. Seperti membaca, menyimak, menulis, dan berbicara. Kemudian pada saat SMP dan SMA siswa juga mulai dikenalkan pada dunia kesastraan.

Gelombang Pendidikan Sastra

Aan Frimadona Roza
Lampung Post, 18 Des 2010

MENELAAH puisi-puisi dan catatan dewan juri Batu Bedil Award yang dimuat Lampung Post, Minggu, 5 Desember 2010, dalam rangkaian Festival Teluk Semaka 2010, saya benar-benar seperti diajak mengarungi keluasan samudera yang tak berbatas. Setidaknya bagi saya yang tengah menjadi penumpang sekaligus nakhoda dalam bahtera sistem pendidikan membuat saya bertambah yakin betapa lomba cipta puisi seperti ini tidak hanya memberi dampak positif bagi promosi pariwisata dan budaya daerah bersangkutan, tetapi juga bersinggungan dengan tujuan mulia lain, yaitu meningkatkan derajat pendidikan khususnya bidang kesusasteraan.

Mendekonstruksi Sentralisasi Sastra

Yusri Fajar
http://jiwasusastra.wordpress.com

Prolog

Eka Budianta, pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang juga dikenal sebagai penyair, menuturkan bahwa ketika umur 15 tahun, dia telah berkenalan dengan komunitas sastra di Kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang (IKIP, sekarang Universitas Negeri Malang). Sebulan sekali di Perguruan Tinggi tersebut diadakan pembacaan puisi, pentas teater dan diskusi sastra dalam acara malam purnama.

ANGKATAN 70-AN: KEMBALI KE TRADISI

(Konsep Estetik Abdul Hadi WM tentang Angkatan 70-an)*
Maman S Mahayana*
http://mahayana-mahadewa.com/

Dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, kita mengenal adanya sejumlah penyebutan tentang penggolongan, periodesasi atau angkatan. Penyebutan itu tentu saja tidak serta-merta muncul begitu saja. Selalu ada usaha untuk merumuskan semangat yang melatarbelakanginya atau gerakan estetik yang mendasari karya-karya yang muncul sejalan dengan semangat zamannya. Dari sejumlah penamaan tentang angkatan atau periodesasi itu,1 menurut hemat saya, hanya ada tiga angkatan yang melandasi penamaannya atas dasar semangat atau gerakan estetik, yaitu Pujangga Baru,2 Angkatan 45,3 dan sastrawan yang muncul pasca-Angkatan 66, 4 yaitu Angkatan 70-an.5

Tasawuf, telaga dalam dan jernih

Abdul Hadi W.M.
http://majalah.tempointeraktif.com/

TASAWUF DALAM QURAN Oleh: Dr. Mir Valiudin Terjemahan: Tim Pustaka Firdaus Penerbit: Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987, 151 halaman

BUKU-buku tasawuf-uraian, teks ajaran para pemukanya, puisi dan prosa sastrawan sufi yang begitu melimpah — belum banyak diterbitkan di Indonesia. Padahal, peminat tasawuf cukup banyak, di samping sudah berakar lama. Tasawuf mennyediakan telaga yang dalam lagi jernih bagi mereka yang ingin memperdalam pemahaman keagamaan.

MILLENIUM DAN DILEMA MASAKINI

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Pada salah satu bagian dari “Serat babad Dipanegara” terurai kisah, bahwa Pangeran yang mencetuskan perang jawa terbesar (antara 1825-1830) ini pernah berkeinginan menciptakan satu legalisme populatif, yang diemban oleh “nilai datu-datu”. Sang Pangeran, yang nama kecilnya adalah Raden Mas antawirya itu pergi bertapa di Gunung rasamuni, pesisir kidul, dan bertapa sedemikian kerasnya, hingga ruhnya sempat berdialog dengan ratu Kidul.

MANUSIA KARDUS

Karya: Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

KARDUS-KARDUS MEMASUKI PANGGUNG, MENARI DAN MENYANYI

Kardus, kardus, kardus
Tak berakal, tak berbekal
Kardus pembungkus kebaikan
Dari debu dan kotoran kehidupan
Nasib kardus bukan malang
Kardus juga makhluk Tuhan
Berguna untuk barang kemasan

Lan Laku Kala Mangsane

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Setiap pertemuan selalu menyematkan risalah sebagai salah satu rahasia penting dalam hidup. Nyaris selalu. Kadang ia begitu menggelisahkan. Kadang ia menjadi begitu sukar dirumuskan. Namun tak jarang justru ia menjadi hal remeh-temeh yang luput dari pandangan sekaligus membisik lirih; “abaikan!”. Setiap pertemuan lantas berubah ujud menjadi sebuah koleksi peristiwa yang layak disematkan sebagai “berharga”. Untuk sedikit saja menyebutnya, misal lipatan nuansa yang terbangun pada saat pertemuan terhadap sesuatu yang “baru” dalam hidup; pengetahuan. Mungkin seperti Nabi Adam yang bertemu dengan bergugus-gugus nama. Lalu hadir sesuatu yang dirasa sebagai ‘berbeda’.

Alqur’an, Keindahan Aural, dan Puisi

Asarpin *
http://sastra-indonesia.com/

Tradisi membaca Qur’an dalam Islam dinamakan tilawah. Bentuk resital yang paling populer di tanah air adalah pembacaan Alqur’an secara murattal, atau ritmik, yang juga sering disebut tartilan. Tradisi ini di negeri kita biasanya dilombakan dalam festival Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ). Dalam MTQ, yang ditonjolkan adalah Alqur’an sebagai keindahan aural (keindahan yang didengarkan), bukan yang dituliskan. Bacaan Alqur’an yang aural dilantunkan begitu merdu, begutu indah, seperti puisi kanonik yang kaya akan semesta metafora dan gaya.

Medèn-medèni Sapardi Djoko Damono

Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian VII kupasan keenam dari paragraf awalnya)
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Ini menuntasi tulisan-tulisan sebelumnya mengenai paragraf awal IK, sebalutan muakhir demi pijakan lanjut. Saya mulai sedikitnya merevisi pandangan kritikus Maman S Mahayana di bukunya “9 Jawaban Sastra Indonesia” sebuah orientasi kritis, diterbitkan Bening Publishing, cetakan 2005, Bagian IV: Sarana Pendekatan Sastra, dahan ke 8 berjudul ‘Sastra dan Filsafat’ halaman 343. Di bawah ini terambil dua paragraf pembukanya bagi pondasi langkah ke muka. Nan disesuaikan keimanan sorot mata saya berproses kreatif, yang berangkat dari buah keyakinan setelah baca ke belakang, demi peroleh kepurnaan sepaduan kehidupan.

LINUS DAN PARIYEM

R. Fadjri, L.N. Idayanie, Dwi Arjanto, Agus S. Riyanto
__Majalah Tempo (Jakarta), 9 Agus 1999

LINUS adalah Pariyem. Pariyem adalah Linus. Kedua nama itu bak dua sisi mata uang. Jika dibolak-balik tetap mencitrakan pribadi yang sama. Nama lengkap yang pertama adalah Linus Suryadi Agustinus, seorang penyair yang wafat pada Jumat 30 Juli lalu, dalam usia 48 tahun. Sedang nama lengkap yang kedua adalah Maria Magdalena Pariyem alias Iyem, tokoh rekaan sang penyair dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem. Bagi sastrawan Sapardi Djoko Damono, Linus tak bisa dipisahkan dari prosa liriknya yang terbit pertama kali pada 1981 itu. Menurut Sapardi, inilah satu prosa lirik paling panjang yang pernah dihasilkan sesudah zaman kemerdekaan.

Gagasan Sosial dalam Sastra

Wildan Nugraha
Sabili No. 6 Th. XIX, 22 Des 2011/26 Muharam 1433

HAL yang menarik diperbincangkan dari karya sastra antara lain soal gagasan sosial di dalamnya. Sebab hampir tidak mungkin kita memungkiri bahwa seorang sastrawan selalu bersentuhan dengan kehidupan sosial dan gagasan-gagasan yang berlaku di seputarannya, secara langsung ataupun tidak langsung, dekat ataupun jauh; dan oleh karenanya gagasan-gagasan itu, disadari atau tidak disadari, masuk ke dalam karya sastra yang dihasilkannya.

Identitas dan Tubuh yang Dilepaskan dari Bahasa

Afrizal Malna
http://publiksastra.net/

DUA lembaga pembacaan sastra hingga kini saling tarik-menarik, menghasilkan negosiasi yang tidak mudah untuk melihat wajah sastra Indonesia masa kini. Yang pertama, lembaga kritik sastra. Saya ingin menyebut lembaga ini sebagai “sastra pertama”. Sastra pertama ini awalnya menghasilkan negosiasi yang gesekannya cukup tajam antara politik dan pandangan-pandangan kebudayaan.

Cultural Studies dan Tersingkirnya Estetika

Akhmad Sahal *
Kompas, 2 Juni 2000.

Ajakan Bentara
Sejak semula, lembar kebudayaan Bentara yang selama ini dijadwalkan terbit sebulan sekali setiap Jumat minggu pertama, diniatkan untuk menampung wacana-wacana pemikiran yang kian disadari kini, yakni betapa perubahan deras tengah terjadi di dunia, dan betapa arus pemikiran berkembang cepat.

Sastra-Indonesia.com